Home

Ketika mata terpejam di tengah malam yang begitu sepi bukan berarti seseorang tengah tidur pulas dalam damainya. Bisa saja mata dan pikirannya tidak saling bersepakat untuk berhenti bekerja. Seringkali ketika mata terpejam, pikiran sibuk sekali membolak-balik halaman-halaman kehidupan. Entah yang lalu, entah yang akan datang. Sesekali ia buka halaman yang manis dan indah dilihat, seperti halaman indah masa kecil ketika ayah tengah menemani kita bermain di teras rumah pada sore hari sesaat setelah kita dimandikan ibu. Atau tak jarang pikiran ini membuka halaman yang begitu menyesakkan, seperti ketika kau harus merelakan pujaan hati pergi ke pelukan orang lain dan kau merasa seperti sesial-sialnya manusia.

Pikiran ini memang selalu ada bahan untuk didiskusikan. Padahal kita juga dibawa bingung, entah dengan siapa pikiran ini berbincang ketika mata telah terpejam. Ya, pikiran memang tak pernah berhenti berbincang di dalam kepala kita, namun sepertinya ini tak jadi masalah, karena kerap kali pikiran itu mengucapkan kata-kata manis yang secara spontan dapat dijadikan oretan-oretan bait puisi. Atau bisa saja hasil perbincangan pikiran itu dijadikan sebuah prolog dari cerita-cerita pendek. Dan seringnya, banyak pertimbangan bijak yang didapati ketika memejamkan mata, menundukkan hati dan membiarkan pikiran bekerja keras.

Untuk itulah kubuat lembaran-lembaran ini. Lembaran yang dibuat dari hasil bermenung –ketika mata terpejam dan pikiran tak mau diam. Entahlah jadinya berupa bait-bait puisi manis dan kejam, cerita indah dan sedih, ataupun opini-opini sembarang dengan sedangkal-dangkalnya pengetahuan yang kumiliki.

Selamat menikmati tulisan-tulisan di dalamnya. Dengan harapan akan ada banyak orang yang rajin bermenung untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia lain.