Selamat Hari Raya Idul Fitri, Masa Lalu!

IMG_2184

Bukan foto lebaran di rumah Aceh Tamiang
(sedang lebaran di Banda Aceh)

Sejak kecil hidup dalam keluarga dan lingkungan yang sangat mengagungkan lebaran. Almarhumah Mamam, menjadikan lebaran sebagai pelampiasan dalam hobinya menata rumah dan menyajikan hidangan-hidangan spesial. Rumah, tak hanya sekedar untuk menjamu tamu dengan kue kering dan sirup merah, tapi juga sebagai tempat untuk memanjakan mata tamu saat melihat berbagai penjuru rumah. Ditambah lagi, meja makan yang tentu bisa memanjakan lidah para tamu-tamu.

1413450564781

Ruang khusus pajangan
(tamu gak mungkin di sini)

IMG_2197

Koleksi pernak-pernik yang dipajang di lemari
(kebanyakan yang saya beli dari luar kota atau luar negeri)

Sampai saat Mamam tidak ada, tradisi dan kebiasaan itu tetap diselenggarakan di rumah. Makanya, momen lebaran selalu membuat saya rindu-rindu benci kalau mengingat masa persiapannya. Ya, bayangkan saja, saya sebagai salah satu diandalkan oleh Mamam untuk urusan rumah sudah kuras tenaga satu minggu sebelum lebaran. Mulai dari mencuci karpet-karpet, rak-rak, koleksi guci-guci Mamam, cat rumah, pemugaran halaman, pasang gorden yang sudah dicuci khusus sebulan sebelumnya dan masak menu spesial tentunya. Kalau diingat lagi, saat itu sepertinya saya mau pura-pura bukan anggota keluarga saja. Tapi, saat sudah tidak punya kesempatan untuk berlebaran dengan keluarga, saya jadi senyum-senyum sendiri rindu masa-masa itu. Masa-masa gotong royong yang lelahnya subhanallah.

1413450564341

Sampel guci yang biasanya dicuci sebelum lebaran
(kebayang, kan? ngangkutnya aja perlu dua orang)

1413450564891

Halaman yang selalu ditata rapi
(biasanya penuh bunga warna-warni karena Bapak jago stek bunga)

Ini tahun keempat saya tidak berlebaran di rumah. Alasannya, saya leih memilih mudik akhir tahun selama sebulan daripada mudik lebaran yang hanya seminggu. (tentunya di luar kondisi COVID-19 ini). Awal-awal lebaran di Bandung cukup membuat saya shock culture, karena tidak ada yang harus disiapkan kecuali ketupat, opor dan teman-temannya yang lain. Situasi ini benar-benar berbeda dengan suasana di rumah. Kabar baiknya, saya bisa santuy sepanjang Ramadan sampai Idul Fitri tiba. Ya, mungkin sesekali sibuk di dapur kalau ada permintaan tertentu untuk dimasak.

IMG_2177

Lebaran di Banda Aceh sekeluarga tahun 199x
(lupa tahun berapa, kayaknya saya belum sekolah)

1413461629975

Tentunya rindu juga temu dengan puluhan sepupu
(biasanya ini momen bagi-bagi THR yang serunya kayak Kepala Desa bagi BLT)

Kapan waktu, rasanya saya ingin juga mengajak anak dan istri berlebaran di Aceh. Biar mereka mendapat pengalaman berbeda dari tradisi lebaran. Semoga, di masa-masa mendatang, ada rezeki dan waktu libur panjang untuk saya bisa berpuasa, berlebaran dan berlibur panjang di rumah. Walaupun, lebaran di rumah pasti sudah tak lagi sama setelah Mamam tidak ada. Mamam, orang yang bertanggung jawab penuh untuk urusan rumah dari halaman sampai dapur untuk disajikan saat lebaran. I miss u, Mam. I miss that moment. Always.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s