MAM, INI RINDU TERSAKIT YANG TAK AKAN PERNAH TUNTAS

IMG_1458.JPG

Rindu apa yang paling sakit? Rindu pada seseorang yang paling kita cintai tapi tidak bisa lagi kita temui karena terpisah oleh kematian. Rindu itulah yang saya alami sejak tanggal 31 Januari 2019 lalu, sembilan hari setelah usia saya tepat dua puluh delapan tahun. Mamam pergi meninggalkan kami, anak-anak dan suaminya. Kami dipaksa berakselerasi untuk mampu. Dipaksa berakselerasi untuk kuat dan siap meneruskan hidup tanpanya yang selama ini menjadi pergantungan dan tiang utama.

Apakah setiap kematian meninggalkan gumpalan di dalam dada…

Untuk saya yang masih lemah iman ini, kadang sekuat apapun doa masih meninggalkan lubang rindu yang tak tertutupi. Setiap teringat Mamam, ada gumpalan di dalam dada yang tiba-tiba menciut dan membuat sesak. Air mata memang tak keluar dari mata, tapi isi dada terasa basah oleh air mata yang tak hendak keluar itu. Saya kadang mempertanyakan, apakah setiap kematian meninggalkan gumpalan di dalam dada bagi orang yang ditinggalkan?

20190202_170642.jpg

Saya jadi ingin mengingat-ingat kembali secara detail hari di mana saat Mamam pergi. Sehari sebelumnya, entah kenapa pikiran saya dipenuhi dengan keinginan kuat untuk resign dari semua pekerjaan dan pulang ke Aceh untuk merawat Mamam. Selama di tempat kerja, saya nelangsa tanpa sebab. Perasaan itu terbawa sampai malam menjelang tidur. Pun saat di rumah, saya tak banyak bermain bersama Mbak Ayung anak saya dan bercengkrama dengan Bébé istri saya. Saya hanya banyak diam.

Kabar ini hanya seperti bom waktu.

Malam itu Mbak Ayung rewel dari tidurnya, yang membuat saya bangun sekitar pukul 03.30 dan memutuskan untuk shalat malam (hikmah anak rewel). Usai shalat, HP bergetar, sebuah panggilan masuk dari kakak saya. Jantung saya sejenak menendang dada dengan keras. Rasanya tak perlu dijelaskan lagi apa yang akan disampaikan oleh kakak saya. Kabar ini hanya seperti bom waktu. Dengan kondisi Mamam yang semakin memburuk belakangan ini, saya hanya menunggu saja kabar berat ini datang lewat HP saya.

IMG_20180717_211515_HHTl.jpg

Tak banyak reaksi saya, hanya menanggapi dengan suara datar. Jiwa saya terguncang, tapi mencoba tidak tumbang. Hati saya memar, tapi memilih tegar. Saat itu juga saya memesan tiket untuk pulang dan berkemas dibantu Bébé. Sepanjang perjalanan Bandung – Aceh saya semakin nelangsa. Mengingat-ingat kebersamaan dengan Mamam beberapa minggu lalu saat saya di Aceh bersama Bébé dan Mbak Ayung. Rasanya memang tuntas sudah tugas saya. Menemani Mamam yang berkali-kali keluar-masuk ruang Hemodialisis, bincang mendalam seputar sabar dan ikhlas di atas ranjang Rumah Sakit, sesekali memasak untuk makan siangnya.

Tidak setetes pun air mata tumpah.

Semua kenangan sejak kecil hingga hari terakkhir kami bersapa lewat video call seperti berebut masuk ke dalam kepala saya untuk mereka ulang adegan. Semakin dekat dengan rumah, perasaan saya semakin gamang. Satu kata yang muncul dari dalam diri saya, “kuat”. Tiba di rumah, jenazah Mamam sudah dimakamkan, satu persatu sanak saudara menyalami dan memeluk saya. Semua dari mereka menitikkan air matanya. Saya? Tidak setetes pun air mata tumpah. Saya membalas berbagai ucapan duka dengan senyum sembari meminta mereka juga bersabar dan ikhlas.

Kisah saya dan Mamam sudah tergenapi.

Mungkin orang-orang mengira saya mati rasa, atau beku jiwa. Tidak, saya memang tak ingin menangis di hari itu. Untuk apa saya menangisi kepergian Mamam atas kematiannya sementara saya sudah melepas Mamam dengan kenangan yang manis saat hidupnya. Kisah saya dan Mamam sudah tergenapi. Tuhan tahu kadar yang cukup untuk saya dan Mamam. Kadar yang cukup itu pula yang membuat saya tak banyak goyah di hari kepergiannya.

20181217_211757.jpg

Hampir empat bulan Mamam pergi. Rasa rindu yang sakit itu masih sama. Ada rasa ingin mengabarkan kalau Mbak Ayung saat ini sudah membulat badannya dan sudah mulai belajar berdiri, sekedar ingin mengabarkan kalau hari ini bahan apa saja yang dipakai Bébé untuk membuat MPASI buat Mbak Ayung, atau menanyakan resep masakan yang belum pernah saya coba tapi sudah ahli dimasak oleh Mamam (ini yang membuat saya merasa sangat kehilangan). Sesekali Tuhan mengizinkan Mamam datang lewat mimpi. Terhitung seingat saya sudah dua kali Mamam datang di mimpi saya. Datang dengan selalu memberi petuah dan nasehat. Tak hanya saya, Bébépun juga beberapa kali memimpikan yang serupa.

Bunga-bunga segar di halaman yang sudah disiapkan beberapa bulan sebelumnya.

Lebaran sebentar lagi. Momen lebaran selalu menjadi momen yang sangat spesial bagi Mamam. Mulai dari halaman, ruang tamu, kamar, hingga dapur tak ada yang lolos dari perhatian Mamam. Bunga-bunga segar di halaman yang sudah disiapkan beberapa bulan sebelumnya, pajangan-pajangan lucu di atas meja dan lemari kaca, seprai baru dengan motif bunga-bunga besar, dan hidangan-hidangan spesial seperti sop tulang sehari sebelum lebaran, soto aceh, daging rendang, ayam goreng, tauco udang petai yang tersaji di atas meja makan tepat di hari lebaran. Bila saya berlebaran di rumah, Mie Lidi dan rempeyek kacang pasti tak lupa disajikan.

Saya bingung harus bertanya pada siapa kalau hendak membuat rendang…

Sudah dua tahun saya tidak berlebaran di rumah. Tahun pertama karena mempersiapkan pernikahan, tahun kedua karena Mbak Ayung baru berumur seminggu. Namun begitu, saya selalu menghadirkan menu-menu Mamam ke atas meja makan di rumah mertua saya. Lebaran ini, saya bingung harus bertanya pada siapa kalau hendak membuat rendang, sop tulang, atau soto aceh kesukaan ibu mertua, karena detail resep dan cara memasak hanya Mamam yang hafal betul.

20190202_165033.jpg

Rindu yang sakit ini akan terus ada. Mungkin memang tak akan ada penawarnya. Dan kadang, lebih sulit bagi saya melihat orang lain yang bersedih atas kehilangan Mamam dibanding kehilangan yang saya rasakan sendiri. Saya hanya ingin belajar bagaimana doa dan amal bisa mengurangi kadar sakit itu. Berterima dengan akselerasi ini dan percaya semua akan baik-baik saja selepas runtuhnya tiang pergantungan kami. Lagi pula, lebih lega melepas Mamam pergi daripada harus melihatnya larut dalam sakit.

20181220_090838.jpg

Terima kasih, Tuhan. Walaupun saya tak ingat apa isi mimpi semalam, tapi saya bisa melihat dan merasakan dengan jelas kehadiran Mamam. Sampai tulisan ini selesai dibuat, saya masih berusaha mengingat nasehat apa yang semalam Mamam sampaikan. Kenapa saya terbangun dengan rasa sesak dan haru di dada hingga harus meringkuk mendekat pada Bébé?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s