Dari “Suami Hamil” Hingga Menjadi “Ayah ASI”

Datangnya kabar kehamilan dalam sebuah keluarga tentu memberi nuansa kupu-kupu sendiri bagi setiap orang. Sayapun merasakan hal yang sama, walaupun mungkin ekspresi kebahagiaan yang saya tunjukkan tak sampai lompat-lompat di atas kasur atau menggendong sambil menciumi istri. Saya cukup tenang, bahkan sangat tenang hingga membuat istri saya bertanya-tanya, “apakah kamu senang dengan kehamilan ini?”

Setelah membaca dari salah satu buku yang dipinjamkan teman dekat saya seputar kehamilan 9 bulan, sayapun memutuskan menjadi ‘Suami Hamil’

Terlepas dari itu, saya dan istri punya semangat yang sama menyambut kedatangan si bayi. Banyak sumber literasi, talkshow, parents club, dan kegiatan lainnya yang kami ikuti. Setelah membaca dari salah satu buku yang dipinjamkan teman dekat saya seputar kehamilan 9 bulan, sayapun memutuskan menjadi “Suami Hamil”.

Trimester Pertama

Menjadi Suami Hamil tentu tidak mudah bagi saya yang notabenenya banyak menjalani gaya hidup yang barbar, tapi demi si calon bayi, sayapun belajar untuk menyeimbangkan diri. Di trimester pertama ini tak banyak yang kami dapat lakukan selain menjalani pola hidup yang sedikit lebih baik seperti asupan makanan, vitamin, dan pendukung kesehatan lainnya. Dari awal-awal tanda kehamilan, kami rutin memeriksakan perkembangan calon bayi ke Puskesmas dan dokter kandungan.

Hari pertama pemeriksaan kami mendapat informasi yang tidak cukup menyenangkan. Istri saya dengan lingkar lengan dan berat badan di bawah normal diprediksi bahwa si bayi akan lahir dengan berat badan rendah (BLBBR) di bawah 2,5 kg. Tak hanya itu, pinggul sempit dan Hb yang rendah memiliki kemungkinan bayi harus dilahirkan cesar. Dan PR yang harus kami lakukan selama masa kehamilan adalah memastikan asupan gizi untuk si calon bayi cukup, memakan makanan yang dapat meningkatkan Hb darah, dan olahraga rutin.

Di bulan kedua kehamilan, istri saya nyaris keguguran

Tantangan tak sampai di situ, di bulan kedua kehamilan, istri saya nyaris keguguran. Saat diperiksakan ke Puskesmas, Bu Bidan menyarankan untuk segera ke Dokter kandungan untuk melihat kondisi si calon bayi. Sungguh saat itu saya dan istri benar-benar merasa sangat nelangsa. Namun saya berusaha untuk bersikap tenang agar psikologis istri tidak semakin memburuk. Setelah menunggu sore hari, kamipun datang ke dokter kandungan untuk memeriksakan si calon bayi. Alhamdulillah, dokter bilang kondisinya masih cukup baik, namun harus didukung dengan obat penguat janin untuk beberapa waktu.

Trimester Kedua

Setelah mendiskusikan dengan matang, istri sayapun memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus menikmati masa kehamilannya. Kami sama-sama melakukan aktivitas yang lebih sehat dengan rutin ke pasar untuk membeli sayur dan buah segar. Di usia kehamilan ini juga si calon bayi sudah bisa menerima respon dari luar (menurut salah satu buku), dan karena itu saya dan istripun bergantian membacakan cerita untuk si calon bayi dengan buku-buku berbahasa Indonesia dan Perancis.

Di trimester ini kami juga fokus untuk memberikan asupan literasi pada bayi. Selain cerita-cerita, bayipun kami perdengarkan lantunan ayat suci Al Quran. Surat Maryam, Yusuf, Yasin, Lukman, dan Ar Rahman menjadi surat favorit yang rutin diperdengarkan. Dengan begitu niatnya pula, saya sampai-sampai membelikan headset untuk istri saya agar bisa digunakan bersama si calon bayi.

24 Desember 2017, sesuatu di dalam perut istri saya mulai menendang. Saat itu, kami benar-benar merasa hidup bertiga. Si calon bayi begitu aktif saat bermain dengan ibunya, kadang-kadang sampai melakukan tendangan-tendangan akrobatis. Tapi, tendangan-tendangan itu akan segera mereda saat saya mencoba menyentuhnya atu mencoba mengarahkan kamera.

Sebagai Suami Hamil, mood swing yang dialami oleh istri juga menjadi tantangan sendiri bagi saya

Gerakan si calon bayi terbilang cukup teratur, aktif sekitar pukul 10 malam dan sekitar pukul 5 pagi. Istri bertugas membacakan cerita dan mengaji di pagi hari, saya di malam harinya. Untuk makan, saya sudah mengurangi makanan-makanan tidak sehat. Banyak waktu saya sempatkan untuk memasak buat istri dan calon bayi. Sebagai Suami Hamil, mood swing yang dialami oleh istri juga menjadi tantangan sendiri bagi saya. Istri menangis saat saya tinggal hanya untuk ke masjid di dekat rumah, atau tingkah aneh yang tiba-tiba saja muncul.

Untungnya, selama trimester ini istri saya sudah tidak lagi mengalami ngidam, Karena masa ngidamnya sudah berakhir di dua hingga tiga bulan kehamilan. Malah, saya yang merasa banyak ingin dan maunya makan ini itu. Dan setiap ditanya, “istrinya ngidam, gak?” saya selalu menjawab, “gak, yang ngidam saya. Ngidamnya pengen HP baru, TV baru, mobil baru”, yang alhasil membuat tertawa yang bertanya.

Trimester Ketiga

Perut istri sudah semakin terbentuk. Beberapa pekerjaan rumah sebisa mungkin saya lakukan untuk mengurangi beban fisiknya. Istri hanya saya izinkan untuk kegiatan yang wajar-wajar saja bagi ibu hamil.

Di usia kehamilan ini, saya semakin rajin membawa istri saya berkegiatan. Mulai dari menemani saya mengisi pelatihan, rapat ini itu, turun ke desa pendampingan, sampai ikut membantu persiapan kegiatan festival. Istri saya memiliki semangat yang menggebu saat diajak berkegiatan bersama, dan baginya itu memberi kesenangan sendiri untuk dijalani. Senang bisa bertemu dengan banyak orang, belum lagi sebagian lingkungan kerja saya adalah ibu-ibu muda yang sangat inspiratif.

Pemeriksaan rutin di Puskesmas dan dokter kandungan juga masih kami lakukan. Berat badan bayi menjadi hal utama yang kami kontrol. Memastikan kalau berat badannya normal di usia kehamilan saat itu. Menjelang Hari Perkiraan Lahir (HPL) hasil pemeriksaan Hb cukup menyenangkan karena berada di batas normal. Namun demikian beberapa kecemasan menjelang persalinan tentu membuatnya merasa tak nyaman. Saya sebisa mungkin tetap tenang dan memberikan dukungan bahwa semua akan baik-baik saja.

Sebulan sebelum HPL kami juga memutuskan untuk pindah ke rumah kontrakan baru yang lebih nyaman untuk nantinya ditinggali bersama si kecil. Dua minggu sebelum kontrakan lama berakhir, kamipun mendapatkan sebuah rumah yang cukup nyaman dan dekat dengan tempat saya berkegiatan. Bahkan hanya berbeda satu gang dengan tempat saya bermain badminton rutin. Kamipun sudah mulai mengatur fungsi setiap ruangan, termasuk untuk bayi berjemur setiap pagi.

Hari Kelahiran

Menurut pemikiran saya ada tiga tipe orang dalam menyikapi sesuatu: yang pertama banyak belajar dan merasa banyak tahu; yang kedua banyak belajar dan merasa tidak banyak tahu; dan yang ketiga tidak belajar tapi merasa banyak tahu.

Sebaiknya belajarlah sebanyak-banyaknya untuk meminimalisasi hal-hal yang tidak terprediksi

Apa hubungannya dengan hari kelahiran si kecil? Saya dan istri mencoba merefleksikan dalam diri masing-masing, tipe orang yang manakah kami. Ternyata kami adalah golongan kedua, yang banyak belajar ini itu, tapi malah sadar kalua kami tidak banyak tahu. Banyak hal yang tidak terprediksi saat hari kelahiran, ilmu-ilmu yang kami pelajari tentunya tidak sirna 100%, malah sangat membantu kami. Jadi, memang sebaiknya belajarlah sebanyak-banyaknya untuk meminimalisasi hal-hal yang tidak terprediksi.

Istri saya bilang, “setiap wanita punya ceritanya sendiri-sendiri perihal persalinannya, ada yang dramatis, heroik, bahkan ada yang biasa saja. Jadi, jangan diambil pusing. Nikmati saja proses persalinan yang dihadapi. Toh, si kecil juga tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa dia mau dilahirkan”. Ini jugalah yang membuat istri saya tak terlalu tertarik menceritakan kisah persalinannya

Di hari kelahiran ini juga saya kembali merasakan banyak kupu-kupu di perut, dada, dan kepala saya. Saya lihat si kecil yang dulunya saat berbincang dihalangi dinding perut istri, dan kini dia berwujud dan dapat saya sentuh. Wajahnya banyak yang bilang sangat mirip dengan saya, walau bibir dan matanya persis seperti ibunya. Walaupun prediksi dokter kalau bayinya laki-laki dan ternyata yang lahir adalah perempuan, tak jadi masalah bagi kami, karena yang terpenting adalah si bayi dan si ibu sehat dan tak kurang satu apapun.

Berbicara tentang waktu kelahiran, bayi yang kami beri nama “Hertana di Lembayung Senja” ini lahir di bulan Ramadan pada hari Kamis malam (yang menurut perhitungan hari dalam Islam, setelah Maghrib maka sudah masuk hari Jumat). Ya, Mbak Ayung (kami memanggilnya) lahir di hari dan bulan yang baik menurut Islam. Perihal nama, memang menimbulkan banyak pertanyaan bagi siapapun yang menanyakan nama bayi kami, dan itu cukup bisa dijelaskan dengan santai saja. Tentunya nama ini memiliki makna tersendiri bagi kami.

Ayah ASI

Pasca hari kelahiran banyak perasaan yang muncul di dalam diri dan cenderung berantakan. Ada rasa senang, takut, khawatir, cemas, dan perasaan-perasaan yang muncul acak tanpa kenal jadwal. Dari semua perasaan yang muncul, yang paling dibutuhkan untuk mengendalikannya adalah ikhlas dan tenang. Sebagai suami tentu tidak mudah menghadapi situasi pasca kelahiran, selain harus berupaya untuk tetap memiliki otak normal, harus pula mendukung istri yang keadaan jiwa raganya semrawut.

Yang paling membuat letih adalah ketika harus menghadapi kenyataan “anakmu bukan anakmu”

Apa yang paling membuat letih pasangan muda saat memiliki anak pertamanya? Begadang? Memandikan bayi? Mengganti popok saat buang air? Bagi saya dan istri semua itu bukan hal utama yang membuat letih sebagai orang tua baru. Semua bisa dilewati dengan penyesuaian yang biasa-biasa saja. Tapi, yang paling membuat letih adalah ketika harus menghadapi kenyataan “anakmu bukan anakmu”.

Tak dapat dipungkiri, hampir semua orang suka dengan anak kecil. Semua ingin menggendong, mencolek, atau minimal mengajak ngobrol. Dan yang paling membuat letih telinga dan hati adalah ketika ada kalimat “kok begini? Kok begitu? Harusnya begini! Gak boleh begitu! Coba ini deh. Eh jangan gitu”. Ya, semua kalimat-kalimat sejenis cukup buat saya dan istri senyam-senyum menghadapinya, atau jika perasaan jiwa sedang dibumbui semangat maka pernyataan ini itu dijawab saja dengan teori A, B, C, dan D. Pasalnya, saya dan istri juga punya banyak acuan (yang kami anggap terpercaya) dalam mengasuh si kecil, itu kenapa kalimat-kalimat di atas buat kami terkadang merasa letih jiwa. apa kami keras kepala? Tidak! Beberapa saran dan masukan ada juga yang kami ikuti, asalkan cukup masuk akal dan terkonfirmasi dari sumber yang terpercaya, it means buka mitos.

Lalu apa hubungannya dengan Ayah ASI? Menurut saya Ayah ASI adalah ayah yang mampu menempatkan dirinya seperti si Ibu ASI. Mau merasa, mau berbuat, mau bersikap, dan mau ambil sadar sebagaimana Ibu yang sedang dalam masa memberi ASI. Termasuk membantu istri dalam mengatasi apa-apa yang membuat dirinya tidak nyaman dengan cuap-cuapan dari kanan dan kiri

Ayah ASI juga harus menunjukkan tindakan yang benar dalam mendukung Ibu ASI, sesederhana memakan makanan yang baik untuk ASI, menumbuhkan kasih sayang dan kehangatan sehingga istri penuh dengan rasa cinta yang nantinya membantu tubuh istri memproduksi ASI. Termasuk, meperbaiki sikap yang dirasa kurang cocok untuk ditunjukkan pada istri, seperti membiarkan istri melakukan segalanya tanpa dukungan dan bantuan suami. Dan yang paling utama adalah mendukung istri untuk memberikan ASI eksklusif meskipun banyak hasutan-hasutan dari sana sini yang mungkin tidak sepamahaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s