Catatan Seorang Istri: Pulang ke Kampung Halaman Kedua (Februari)

Malam ini, saya diminta suami menuliskan apapun yang saya rasakan ketika di Aceh. Sejujurnya, saya tidak terbiasa menuangkan isi pikiran dalam bentuk tulisan. Meski banyak yang saya pikirkan, saya merasa cukup menjabarkannya dalam bentuk pemikiran dalam ingatan atau sekedar mengungkapkannya ketika sedang ngobrol santai dengan suami. Atas permintaan suami saya itulah, kini jari saya sedang menari bebas di atas keyboard.

Setiap kali ‘pulang’, selalu ada cerita tersendiri. Kepulangan yang pertama adalah ketika kami menyandang status pengantin baru.

Aceh, satu kota yang saya tidak pernah sangka akan saya kunjungi. Bahkan ternyata tidak hanya akan sekali saja saya mengunjungi kota Serambi Mekah itu. Alasannya tidak lain karena Aceh kini menjadi kampung halaman juga bagi saya. Saya kini bisa menyelipkan kata ‘pulang’ setiap perjalanan saya ke Aceh. Setiap kali ‘pulang’, selalu ada cerita tersendiri. Kepulangan yang pertama adalah ketika kami menyandang status pengantin baru. Suami saya bermaksud mengenalkan saya kepada keluarga besarnya yang tidak dapat hadir pada saat pernikahan kami. Kepulangan pertama ini menjadi awal perkenalan saya dengan keluarga besar suami juga dengan Aceh.

Waktu yang tidak banyak kami miliki (karena saat itu saya masih berstatus sebagai karyawan swasta) membuat suami saya berpikir untuk mengefektifkan kepulangan pertama ini. Setiap hari, bagaikan maraton, selalu ada tempat yang kami kunjungi agar tujuan memperkenalkan saya dan juga honeymoon dapat terlaksana secara beriringan. Tempat-tempat utama yang ‘wajib’ dikunjungi menjadi prioritas destinasi wisata kami. Diselingi kunjungan ke rumah-rumah kerabat, lalu wisata kuliner menjadi inti perkenalan saya dengan Aceh. (Cerita selengkapnya sudah suami saya tulis dalam tulisan sebelumnya). Suami saya merencanakan semuanya se-apik mungkin agar semuanya efektif dan efisien. Saya selalu terkesan dengan apa yang sudah suami saya siapkan. Treatment yang suami berikan membuat saya merasa istimewa saat saya berada di tempat yang jauh dan asing. Hal itu membuat saya bahagia.

Kepulangan kedua. Bukan lagi perkenalan, tapi pengalaman baru karena saya pulang membawa si kecil dalam perut yang sudah berusia 6 bulan. Dengan segala hal yang baru, dimulai dengan persiapan izin terbang bagi ibu hamil, vitamin, buku dongeng untuk anak, dan perlengkapan lainnya, saya pulang ke Aceh. Kondisi saya yang sedang mengandung, membuat kegiatan inti kepulangan kali ini berbeda 100% dengan kepulangan pertama. Kali ini, saya tidak mengunjungi tempat-tempat wisata, tidak berlelah-lelah, tapi cukup duduk manis dan menikmati hidangan kaya protein yang sangat baik untuk perkembangan janin. Sekali lagi, saya dibuat terkesan dengan treatment yang suami berikan.

Dia bukan hanya care kepada saya, tetapi (tentu saja) pada little baby usek usek taranta (panggilan suami untuk janin dalam perut saya). Jadilah kepulangan saya kali ini didominasi kegiatan maraton makan sumber protein. Kami makan kepiting, udang, daging dan sumber protein lainnya. Kepitingnya bukan kepiting mini melaikan kepiting besar yang dagingnya padat dan nikmatnya gak sopan kalau kata suami saya. Udangnya pun bukan udang biasa, udang galah sebesar lengan tangan saya (lengan tangan saya tidak lebih besar dari lengan suami saya, tapi kalau udang yang sebesar lengan tangan saya, artinya dia cukup besar di kelasnya). Itulah yang membuat suami saya sukses ngabibita followers Instagramnya dengan postingan kenikmatan udang dan kepiting yang gak sopan itu.

Yang membuat saya heran dan tercengang adalah bahan makanan itu mudah didapatkan dengan harga yang murah sekali (intinya berkali-kali lipat murahnya daripada harga di Bandung). Jadilah saya menikmatinya dengan kenikmatan berlipat ganda. Nikmat rasanya, nikmat pula harganya. Hahaha. Ketika mendekati waktu kepulangan ke Bandung pun yang saya pikirkan, ‘nanti di Bandung nggak makan kepiting sama udang lagi, dong’.

Begitulah, betapa kegiatan kuliner itu membekas bagi saya. Sekali lagi, untuk kesekian kalinya, saya terkesan dengan treatment yang suami saya berikan. Dia selalu sukses membuat saya tersenyum bahagia. Saya akhiri cerita ini dengan hasil USG yang mengejutkan sebelum kepulangan kembali ke Bandung. Kejutannya, selama dua minggu saya berada disana, berat janin naik 400 gram dari hasil USG terakhir. Artinya, ibu happy, janin lebih happy. Terima kasih, “Belahan Jiwa”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s