Menemukan Rahasia Masa Lalu di Kampung Sekepicung

Selalu menyenangkan memang berkegiatan bersama anak-anak. Menghadapi berbagai tingkah laku mereka menjadi tantangan sendiri tentunya bagi kita yang sudah terbiasa berinteraksi dengan mereka, khususnya bagi saya sendiri. Ya, saya sendiri mulai menyukai anak-anak sejak usia 16 tahun, saat ibu saya melahirkan anak terakhirnya. Awalnya saya sempat menolak kehadiran adik saya ini ketika ia masih ada di dalam perut ibu saya, tentunya dengan berbagai alasan yang mungkin kurang masuk akal. Tetapi setelah ia lahir di bumi, entah kenapa saya merasa senang dan excited sekali. Sejak saat itulah, saya percaya bahwa ada sesuatu yang disebut “the miracle of children”.

Kehadiran adik terakhir saya ini tak dapat dipungkiri membuat saya semakin suka dengan semua anak-anak, mulai dari batita, balita sampai yang menjelang remaja. Tiap-tiap mereka unik dan selalu ada banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Dan selama bertahun-tahun saya pun menyempatkan diri untuk berkegiatan yang tak jauh dari anak-anak. Di usia sekarang, saya sendiri lebih banyak belajar di klub-klub parenting dan berbagai seminar seputar parenting, hitung-hitung bisa jadi persiapan untuk menjadi seorang ayah kelak.

“…, semua orang dewasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan hal-hal baik pada setiap anak-anak”

Ada satu pernyataan ajaib yang saya dapatkan saat mengikuti kelas parenting. Kurang lebih intinya begini, “anak-anak adalah orang yang kelak meneruskan keberlangsungan hidup. Entah jadi apa saja mereka. Mungkin jadi pejabat, pengusaha, seniman, teknisi, karyawan atau apapun. Untuk menjadi orang-orang itu, mereka haruslah memiliki dasar akhlak yang baik, sehingga akan baik pula mereka menjalani setiap profesinya. Untuk itu, anak-anak harus dibentuk akhlaknya sejak dini, bahkan sejak di dalam kandungan. Sehingga sudah menjadi tanggung jawab dari setiap orang tua untuk menjadikan anaknya menjadi sosok yang berakhlak baik. Dan lingkungan pun memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan hal-hal yang baik kepada setiap anak-anak, meskipun itu adalah anak dari teman atau tetangga kita, bahkan anak-anak di di luar sana yang kita tidak kenali sekalipun. Artinya semua orang dewasa memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan hal-hal baik pada setiap anak-anak”.

IMG-20180419-WA0015.jpg

Berangkat dari situlah saya merasa semangat sekali saat ditawarkan untuk beraktivitas bersama anak-anak di Kampung Sekepicung oleh CreativeNet. Setelah melakukan beberapa perbincangan bersama tim dan warga setempat, akhirnya dibuatlah sebuah aktivitas untuk anak-anak yang disebut Jelajah Kampung. Jelajah Kampung ini sendiri sesederhana bermain sambil belajar di tempat-tempat yang menjadi ikon atau wadah-wadah tempat anak-anak berkumpul di Kampung Sekepicung.

Jelajah Kampung 1

Setelah berkegiatan beberapa kali bersama Rumah Mentari (sebuah tempat anak-anak berkumpul dan belajar) di bawah asuhan Bu Dewi, mulai dari kerja bakti dengan siswi-siswi Aisyiyah Boarding School Bandung, read aloud bersama anak-anak Rumah Mentari, akhirnya kami memutuskan untuk memulai Jelajah Kampung yang pertama bersama anak-anak di Rumah Mentari. Setelah berdiskusi dengan Bu Dewi, akhirnya terpilihlah Paguron sebagai tempat untuk dilaksanakannya Jelajah Kampung 1, yang mana Paguron juga sebagai salah satu ikon dari Kampung Sekepicung.

20180128_103613.jpg

Minggu, 8 April 2018, bersama dengan anak-anak Rumah Mentari dan kakak-kakak relawan Rumah Mentari kami pun berkumpul. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, saat itu Rumah Mentari juga sedang kedatangan mahasiswa dari Unpad. Setelah berbincang-bincang sejenak, kami semua berangkat ke Paguron untuk memulai aktivitas di hari itu.

20180408_095248.jpg

Kegiatan diawali dengan read aloud atau yang lebih dikenal dengan membaca nyaring. Membaca nyaring ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai positif yang terkandung di dalam buku sehingga dapat ditularkan kepada anak-anak maupun kakak-kakaknya sendiri. Anak-anak di bagi menjadi dua kelompok, satu kelompok dibacakan cerita “Hata Suka Durian”, dan satu kelompoknya lagi dibacakan cerita “Tempe”.

20180408_101421.jpg

Setelah dibacakan cerita, kami sama-sama menggambarkan di buku masing-masing hal yang disukai dari Kampung Sekepicung. Ada yang menggambarkan paguron, lapangan golf, lapangan sepak bola, bahkan layang-layang. Setiap gambar pun memiliki ceritanya masing-masing bagi mereka. Setelah selesai bercerita tentang gambarnya, anak-anak menuliskan nama dan cita-citanya di sebuah kertas yang berbentuk daun untuk ditempelkan di pohon cita-cita yang telah disiapkan kakak-kakak mahasiswa dari Unpad. tak hanya anak-anak, kakak-kakak CreativeNet dan kakak-kakak relawan Rumah Mentari juga ikut menempelkan cita-citanya.

20180408_104533.jpg

Kegiatan hari itupun berlanjut dengan permainan yang disiapkan untuk anak-anak Rumah Mentari. Kami bermain estafet karet gelang dengan menggunakan sedotan. Seru sekali melihat mereka bermain sambil mengatur strategi. Ada yang kesulitan mengambil karet gelang dengan sedotan, ada juga yang dengan gampangnya. Anak-anak semakin semangat karena teriakan yang tak kalah hebohnya dari kakak-kakak. Setelah ditentukan pemenangnya, Kak Upi (salah satu relawan Rumah Mentari) memberikan hadiah makanan ringan yang telah disiapkannya. Karena kelompok yang kalah juga mendapatkan hadiah, alhasil semua hadiah kami kumpulkan dan kami nikmati bersama. Kegiatan ini pun kami tutup dengan melakukan shalat Dzuhur berjamaah di masjid terdekat.

20180408_105655.jpg

Video Jelajah Kampung 1 dapat dilihat di tautan ini: https://youtu.be/CTICDGkdkL8

Jelajah Kampung 2

Berbekal semangat yang kami peroleh di Jelajah kampung 1 di Rumah Mentari. Tim CreativeNet mencoba menemukan wadah anak-anak lainnya. Setelah berbincang-bincang dengan bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik, serta pemuda, akhirnya kami menemukan wadah anak-anak lainnya, yaitu POS PAUD. Kalau Rumah Mentari berada di RT 03, POS PAUD ini dapat kita temui di RT 01 Kampung Sekepicung.

Tim CreativeNet pun menemui pengurus POS PAUD RT 01 dan berbincang dengan Bu Tita yang juga sebagai pengajar di sini. Setelah sama-sama sepakat dan didukung pula oleh Bu Neni selaku Kepala Sekolah, kami pun menyiapkan Jelajah Kampung 2 ini dalam waktu yang cukup singkat. Saya dan tim (kak Bunbun dan kak Opik) meracik kegiatan sesuai dengan aktivitas yang rutin dilakukan oleh PAUD.

20180419_082554.jpg

Kamis, 19 April 2018, pukul 08.00 pagi kami tiba di POS PAUD. Ya, kami datang terlalu pagi, mungkin karena terlalu antusias. Sambil menunggu anak-anak berdatangan, kami pun asik saja “jeprat-jepret” sana sini karena area POS PAUD ini sangat menyenangkan mata dengan pepohonan hijau yang tepat berada di depannya. Saya sendiri sempat mengajak berbincang Ubi, yang kebetulan anak Bu Tita, sambil bertanya apa saja yang mereka lakukan saat di PAUD. Sebagaimana anak-anak umumnya, Ubi hanya menjawab singkat dan malu-malu sambil berlari ke sana kemari. Lucu sekali.

Tak lama, anak-anak pun berdatangan dan guru-guru juga sudah berada di tempat. Aktivitas diawali dengan mengaji yang didampingi beberapa orang guru. Ibu-ibu orang tua dari anak-anak menunggu di sekitar PAUD sambil memegang bekal, memakan gorengan dan berbincang satu sama lain. Setelah mengaji, anak-anak dibariskan tiga kelompok oleh bu guru, dan saatnya kami pun beraksi.

Hari itu, kegiatan anak-anak adalah berjalan-jalan mengelilingi area sekitar. Pagi sebelum jalan-jalan dimulai, Kak Bunbun sudah menempelkan beberapa rambu-rambu sederhana di tempat-tempat yang akan dilalui anak-anak nantinya. Ketika perjalanan dimulai, anak-anak sudah disuguhi dengan gambar rambu lalu lintas dengan warna yang sangat menarik perhatian yang sudah saya, kak opik dan kak Bunbun siapkan semalam sebelumnya. Setiap kami menemui rambu-rambu, kami menjelaskan kepada anak-anak apa artinya.

Tak hanya mengenal rambu-rambu, selama berjalan-jalan kami juga mencoba mengenal apa saja yang ada di lingkungan sekitar. Kami pun menemui banyak hal untuk dibicarakan, mulai dari tanaman padi, hewan-hewan peliharaan, sampai kolam renang yang ada di sekitar PAUD. Jalanan yang kami tempuh memang menanjak dan menurun, tetapi sangat terpuaskan dengan sajian alam yang ada di sini, sampai-sampai Kak Opik asik saja mengabadikan gambar dari segala sudut.

Usai berjalan-jalan, kami kembali berkumpul di PAUD, anak-anak membuka bekal makanan yang siap mereka santap. Di waktu yang sama, Kak Oki dan Kak Nuha juga tiba di POS PAUD dan ikut meramaikan hari itu. Tak disangka dan tak diduga, usai berjalan-jalan sudah tersedia camilan andalan Kampung Sekepicung: Tahu Cabai Garam, untuk kakak-kakak yang pastinya juga lapar tapi tak terpikir membawa bekal. Dengan malu-malu tapi pasti, Tahu Cabai Garam dan Bala-bala pun lahap saja kami santap. Setelah makan bersama, anak-anak jeda sejenak. Ada yang lari sana lari sini, ada yang memanjat-manjat, ada yang berebut perosotan, ada juga yang bermain jungkat-jungkit, kakak-kakaknya hanya tertawa senang saja melihat tingkah-tingkah lucu mereka.

Usai jeda, ibu guru mengondisikan anak-anak di depan kelas, kami duduk melingkar dan baru di saat itulah kami saling berkenalan. Ditemani hujan yang saat itu turun cukup deras, kami berkenalan dengan menggunakan gestur yang membuat anak-anak pusing tujuh keliling menghafal masing-masing gestur dari kami. Usai perkenalan, anak-anak menggambarkan apa yang mereka ingat dari jalan-jalan tadi. Bu guru sudah menyiapkan buku gambar dan pewarna. Et voilà, gambar yang paling domminan muncul adalah gambar lampu lalu lintas. Sebagian lagi, menggambarkan hewan dan rumah-rumah yang sempat mereka lihat selama berjalan-jalan.

Hujan reda, aktivitas selesai, Tahu Cabai Garam pun ludes. Kami berbincang-bincang singkat dengan para guru dan bertanya ini itu seputar kegiatan PAUD. Hari itu kami semua senang, bukan karena Tahu Cabai Garam, tapi karena aktivitas yang seru bersama anak-anak dan guru-guru yang sangat hangat, kolaboratif dan humoris. Kami pun pamit dari POS PAUD untuk melanjutkan tugas kami masing-masing.

Video Jelajah Kampung 2 dapat dilihat di tautan ini: https://youtu.be/8fcQ0i2wc2Q

Dan itulah sebagian cerita saya di Kampung Sekepicung. selalu ada hal baru dan menyenangkan yang bisa ditemui. Sesekali mungkin menemui tantangan, tapi saya percaya, selama apa yang kita lakukan bertujuan positif, maka Tuhan akan membantu dengan skenario terbaik-Nya. Dan dengan anak-anak pula, saya (mungkin teman-teman yang lain juga) banyak belajar, entahkah tentang kesabaran, kejujuran atau rasa apa adanya. Dari mereka pula mungkin saya semakin paham bahwa “bahagia itu memang sederhana”. Dari sekian banyaknya pembelajaran yang saya dapatkan, akhirnya menyadarkan saya bahwa 11 tahun silam saat adik saya terlahir ke dunia, Tuhan mungkin sedang berbicara kepada saya, “di masa mendatang, lintasan hidup yang mempertemukanmu dengan kebahagiaan yang hakiki adalah pertemuanmu dari satu anak ke anak-anak lainnya”.

Foto oleh: Tim CreativeNet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s