Suatu Hari di Kampung Halaman

20180214_071346.jpg

“Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman bertualang…”

20180214_071502.jpg

Beberapa waktu lalu lagu ini mendadak jadi nge-hits buat saya dan teman-teman sepekerjaan. Pasalnya, salah satu kegiatan awal yang kami lakukan dalam pekerjaan itu adalah mengelilingi sebuah kawasan yang didominasi dengan bukit-bukit, sungai, sawah, perkebunan, hunian warga, sampai tempat-tempat nongkrong elit. Medan yang kami observasi ini berhasil membuat alas kaki dan celana kami berlumpur.

20180214_070648.jpg

Saya sebenarnya bukan orang yang sporty-sporty banget, tapi saya suka melakukan perjalanan. Baik dalam arti berlibur, maupun berjalan dalam arti sebenarnya. Apa lagi perjalanan beberapa waktu lalu, walaupun kaki digigiti nyamuk hutan dan sandal gunung yang saya gunakan penuh lumpur, saya begitu menikmati perjalanan tersebut.

20180214_071308.jpg

Masih berkaitan dengan jalan. Jadi, beberapa minggu lalu saya dan istri sempat mudik ke kampung halaman saya. Kampung halaman ini benar-benar kampung dalam arti sebenarnya. Sekeliling perumahan dipenuhi dengan perkebunan kelapa sawit. Dan letak dari satu dusun ke dusun lainnya tidak terlalu dekat. Nah, pada salah satu kesempatan di pagi hari –tentunya saat mata saya sedang tidak diserang kantuk berat- saya mengajak istri untuk berjalan-jalan pagi. Mumpung langit masih putih dan udara belum terlalu panas. Ya, karena di kampung saya ini udara sudah terasa panas mulai pukul 09.00 pagi.

20180214_072529.jpg

Jalan-jalan pagi kami mulai sejak pukul 06.00 (FYI, pukul 06.00 di sini seperti pukul 05.00 di Bandung). Kami berjalan melawati jalanan yang berdebu. Maklum, sudah beberapa minggu ini tidak turun hujan kata Mamam saya. Alhasil tanah gersang dan berdebu. Tapi udara pagi itu bersahabat sekali. Sejuk khas pedesaan. Kami berjalan sambil bergandeng tangan, bersenda gurau seakan tak ada makhluk lain di dunia ini, padahal betapa banyaknya bapak/ibu yang mondar-mandir dengan kendaraannya menuju tempat kerja mereka yang kebanyakan di tengah perkebunan kelapa sawit. Bapak/ibu yang berpapasan dengan kami memberikan senyum atau sekedar memanggil nama saya dengan ramah. Bukan karena saya terkenal di kampung ini, tapi tentunya karena kecipratan ketenaran bapak saya. Salut, Pak Heri! Hahaha…

  20180214_074131.jpg

Tak jauh, kami hanya berjalan sekitar 1 km, soalnya istri saya sudah menunjukkan gelagat-gelagat ingin segera berbalik arah. Di tambah lagi matahari sudah mulai bertengger cantik di ujung langit. Di tengah perjalanan pulang, saya iseng mampir ke kantor kerja bapak saya yang di belakangnya terdapat tempat penitipan anak –atau bahasa kerennya day care, ya?- yang dikhususkan untuk anak-anak karyawan yang kedua orang tuanya bekerja di perusahaan ini.

20180214_075513.jpg

Saya pun melihat ke sana ke sini sambil mengingat-ingat di masa kecil –walaupun tidak pernah dititipkan di sini- saya sering bermain sore bersama teman-teman di tempat ini. Biasanya kami berebutan jungkat-jungkit atau ayunan yang sejak dulu sampai sekarang hanya ada dua saja. Jungkat-jungkit rasanya terlihat kecil, yang akhirnya saya sadari sayanya lah yang bertumbuh besar. Sambil istri saya bermain ayunan di taman itu, saya masuk ke dalam ruangan warna-warni, tempat biasanya anak-anak batita bermain dan ditidurkan oleh Ibu Penjaga. Saat saya melihat masuk, kebetulan ada seorang bapak-bapak yang sedang asik mengecat tembok sambil bernyanyi lagu-lagu lawas. Saya pun sempat berbincang dengan Ibu dan Bapak ini.

ayun.jpg

Selebihnya kami hanya berfoto sambil melihat anak-anak yang sibuk bermain atau sedang dipakaikan baju ganti oleh Ibu Penjaga. Sambil jeprat-jepret sana-sini, saya pun menceritakan beberapa kenangan masa kecil saya pada istri. Kebanyakan hanya membuat istri saya tertawa terbahak-bahak di atas ayunan yang masih berayun ke depan dan ke belakang. Sebelum pulang, saya juga sempat menyapa dua orang bibi yang tengah beristirahat di klinik kantor ini. Dua bibi ini berdiam di klinik karena sakit dan tidak dapat bekerja. Saya cukup banyak berbincang dan becanda dengan mereka, karena kebetulan dua bibi ini juga cukup sering main dan mampir ke rumah.

20180214_073718.jpg

Kami pun pulang. Pagi itu banyak yang saya ingat dari masa-masa kecil di lebih 20 tahunan silam. Selebihnya bincang-bincang santai dengan setiap orang yang kami temui, tentunya memunculkan rasa kekerabatan yang ternyata masih sangat terasa di kehidupan perkampungan. Mungkin ini yang selalu saya rindukan dari kampung halaman. Bincang santai yang topiknya cuma seputar kabar, pasar, lapar, dan “masak apa hari ini?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s