Liburan Bersama yang #Halal2017


Honey moon, sebuah ungkapan yang melekat erat pada mereka yang baru saja melangsungkan pernikahan. Ada yang ke Bali, Lombok, Raja Ampat, bahkan sampai keluar negeri. Honey moon juga salah satu pertanyaan yang sering diajukan pada saya dan istri, “Honey moon kemana, nih?”. Siapapun yang ditanya, baik saya maupun istri saya, tidak ada yang terbebani dengan pertanyaan ini, karena memang kami tidak pernah merencanakan honey moon. Pun kalau ada yang bertanya pertanyaan demikian, jawaban kami sama, sambil senyam-senyum kami bilang, “Honey moon? Kami sih setiap hari juga honey moon. Emang mau kemana lagi?”. Dan mereka yang bertanyapun tertawa mendengarnya. 

Ya, sejak menjajaki rencana pernikahan, segala hal yang terbilang gak perlu-perlu amat ala saya seperti acara adat, konsep ala ini, desainer ala itu, hidangan ala ini, hiburan ala itu, sesajen jenis ini, ritual jenis itu, saya coba buang jauh-jauh dari to do list saya. Prinsipnya it’s our wedding, let me and her decide! Begitupun dengan istri saya. Dia bahkan tidak melakukan perawatan khusus seperti nyalon, spa, lulur, dan entah apalah itu jenisnya menjelang hari pernikahan, dan saya cuma bilang “no problem!” Diapun akhirnya nyalon setelah hampir tiga minggu pasca pernikahan kami –tentunya setelah melakukan diskusi terlebih dahulu dengan saya untuk model potongan rambutnya–.

 

 

 

Yang harus itu adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya.

 

Bagi saya dan pasangan tidak ada yang “harus”, yang harus itu adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangannya. *wink. Untungnya, keluarga saya dan keluarga istri saya cukup berpikiran terbuka, sehingga khitbah dan pernikahan ala kami bisa dengan mulus dioperasikan. *mesin kali ah.


Back to the topic, bicara honey moon memang tidak menjadi topik penting bagi kami. Walaupun saya ingat betul saat di bangku  kuliah saya memimpikan honey moon di Singapura, namun saat pernikahan itu datang, keinginan masa silam itu lewat saja di kepala saya. kalau berbicara seputar budget, sebenarnya saya punya sedikit budget kalau-kalau mau dihabiskan untuk honey moon, tapi saya dan istri sepakat untuk memanfaatkan budget itu menjadi barang-barang keperluan yang lebih bermanfaat di gubuk kami.

Jadilah kami liburan sambil bersilaturahim.

Lalu mencuatlah wacana “istrinya nggak dibawa pulang ke Aceh? Dikenalin gitu sama kampung halamannya dan saudara-saudaranya”. Berlandaskan cuapan-cuapan itu, akhirnya kami memutuskan untuk puang ke Aceh menjelang Hari Raya Idul Adha. Hitung-hitung pengganti Idul Fitri lalu yang saya tidak sempat pulang. Jadilah kami liburan sambil bersilaturahim. Baiklah, liburan yang bertujuan silaturahim ini kami sebut saja honey moon. Hahaha…

 

Bicara tentang liburan di Aceh, kami sebenarnya cuma punya waktu dua hari. Karena hanya dua hari itu kami berada di Banda Aceh sebelum akhirnya bertolak ke kampung halaman saya di Aceh Tamiang. Dan inilah perjalanan singkat kami selama di Banda Aceh yang penuh drama unyu-unyu pilu. Hahaha…

 

Museum Tsunami Aceh

Salah satu tujuan wisata yang wajib pasca Aceh diterjang Tsunami. Dengan nuansa pakaian hitam-putih, saya, istri saya, dan adik perempuan saya –yang khusus saya ajak untuk jadi tukang foto– menjelajah seisi museum ini. Drama bermula ketika saya ternyata lupa membawa HP yang tadinya akan digunakan untuk berfoto. Saya hanya memasukkan power bank dan kabel ke dalam tas. Akhirnya HP istri sayapun dimanfaatkan.


Masih asik melihat-lihat terowongan besar yang bertuliskan nama-nama korban tsunami, adik saya melapor, “Bang, HP teteh abis batre”. Saat hendak menggunakan power bank, saya garuk-garuk kepala, pasalnya kabel yang saya bawa tidak bisa digunakan untuk mengisi daya smartphone istri saya. Tet tooottt… Nyaris frustasi, adik saya yang memang tidak membawa HP karena HP-nya rusak mengusulkan ide cemerlang, “Sebentar, ya. Ke kosan teman dulu di belakang museum ini buat pinjam kabel”. Setelah menunggu beberapa menit sambil deg deg ser karena waktu kunjungan museum akan segera berakhir, adik sayapun muncul membawa kabel untuk mengisi daya. Dan, sempatlah saya dan istri menikmati seisi museum sambil berfoto-foto. Bahkan, kami sempat menikmati video dokumenter berdurasi sembilan menit di ruang audio-visual.

 

Masjid Oman

Walaupun saya cukup lama tinggal di Banda Aceh (sejak SMA) dan beberapa kali datang ke masjid ini, saya tidak pernah ingat nama asli masjid ini. Usai mengisi perut dengan hidangan Mie Aceh Kepiting untuk saya, Mie Aceh Cumi untuk istri saya dan Mie Aceh Daging untuk adik saya, kamipun memutuskan untuk shalat di masjid ini.

Cerita-punya cerita, setahun lalu kakak laki-laki saya melangsungkan akad nikah di masjid ini, dan tahun ini bang Muzammil Haballah yang jago melantunkan ayat suci Al Qur’an itu melangsungkan akad nikah di masjid ini juga. Saya sendiri suka dengan masjid ini karena sangat nyaman dan biasanya diimami dengan ustaz-ustaz yang suaranya merdu bukan main. Dan ternyata, di salah satu bagian gedung ini terdapat lampu warna-warni bertuliskan (mungkin) Asmaul Husna. Indah sekali. Rasanya seperti di Casino. (Kayak yang pernah ke Casino aja) Hahaha…

 

Masjid Raya Baiturrahman

Kata orang Aceh, “gak sah kalau ke Aceh tapi gak lihat dan shalat di Masjid Baiturrahman”. Selepas shalat Maghrib di Masjid Oman, masih berbalut pakaian serba hitam-putih kamipun bertolak ke Masjid Baiturrahman. Luar biasa, tempat ini indah sekali setelah dilakukan pembaruan. Seluruh halaman dilapisi lantai keramik cantik dan dilengkapi payung besar ala ala di Arab Saudi sana. Ya, walaupun saya lebih suka Masjid Baiturrahman dengan rumput hijaunya yang luas di pelataran.

Di masjid ini perjalanan kami tak lepas dari drama, bahkan kali ini drama yang saya alami lebih menyakitkan dari drama Korea. Hiks hiks hiks… Setelah kebasahan karena memaksakan diri berfoto di bawah gerimis, saya dan istripun memutuskan untuk pulang. Ketika ingin mengambil sepatu di tempat yang saya letakkan di tempat kedatangan tadi, saya kaget, sepatu saya tidak lagi berada di tempatnya. Saya mencoba untuk tenang dan berkata dalam hati “Oke, fine! Sepatu sudah hilang. Tenang!”. Istri saya ikut prihatin sambil keliling sana sini kalau-kalau ada yang memindahkan, tapi hasilnya nihil.

Terlepas dari harga sepatu yang terbilang cukup mahal untuk kantong pas-pasan seperti saya. sepatu ini tidak lepas dari nilai historisnya. Pertama, sepatu ini adalah satu dari dua pasang sepatu yang Mamam saya belikan untuk saya menjelang hari pernikahan. Kedua, sepatu inilah yang saya dan istri saya pilih untuk dikenakan di hari pernikahan melengkapi penampilan saya yang serba dusty pink saat itu. Dan pada kenyataannya Sepatu Hilang! Sayapun mengucap selamat tinggal (dalam hati) dengan salah satu sepatu kesayangan setelah melaporkan kejadian ini pada pengurus Masjid Baiturrahman. Saya dan istri pulang dengan motor sport kakak saya dibawah hujan yang masih mengguyur dengan bertelanjang kaki. Sampai sekarang, saya masih senyum-senyum sendiri mengingat kejadian itu. Saya sadar, Allah sedang memberi teguran keras untuk saya.

 

Pantai

Saya selalu bilang, laut itu seperti rumah. Karena setiap kali saya ke laut, saya merasa seperti pulang. Mumpung di Banda Aceh, sayapun tidak mau melewatkan moment spesial bersama istri tanpa mengunjungi “rumah” saya. Masih dengan membawa “fotografer pribadi” dan penunjuk jalan yang bisa dibayar dengan sepiring Mie Aceh dan segelas air kelapa muda, kamipun berangkat menjelang tengah hari.

Tujuan pertama adalah kafe yang letaknya seperti di atas bukit dengan pemandangan laut biru dan pegunungan. Tempat ini sudah saya cari-cari sejak setahun lalu, tapi apa daya, saat itu gagal saya temukan. Kali ini, dengan bekal kebrutalan adik perempuan saya dalam memimpin perjalanan, akhirnya kami tiba di tempat yang mantap ini. Istri saya sendiri sejak berada di boncengan sepeda motor sudah kegirangan sendiri melihat hamparan laut di pinggir jalan, tumpukan-tumpukan bukit dan gunung yang hijau segar. Sampai-sampai sepertinya ia lupa kalau di meja kantornya berkas-berkas sudah menumpuk untuk bereskan.

Setelah puas menikmati angin sepoy-sepoy di bawah gubuk, kamipun melanjutkan destinasi terakhir kami, Pantai Lampuuk. Ini pantai favorit saya. di sini biasanya saya berbasah-basahan sambil menenggak segelas es kelapa muda. Saat saya datang ke tempat ini tidak terlalu ramai karena weekday. Saya sempat mengajak akamsi (anak kampung sini) berkenalan dan bermain bersama di pinggir pantai. Ketiga dari mereka luar biasa lucu dan menyenangkan. Setelah berbasah-basahan, saya, istri dan adik sayapun menyicipi banana boat (atas keinginan istri dan adik saya). Ya, ini adalah pengalaman pertama saya. Dan kesimpulannya Suka Banget!

 

Semua destinasi terselesaikan, walaupun saat ke Kapal PLTD Apung hanya bisa kami lihat dari luar gerbang karena sudah ditutup. Tapi secara keseluruhan, dua hari ini saya teramat sangat senang. Wait, saya bukan senang karena bisa mengunjungi tempat-tempat itu, toh saya juga sudah berkali-kali ke tempat-tempat itu. Yang membuat saya teramat sangat senang adalah bisa melihat orang yang saya cintai bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa dengan suguhan yang saya persembahkan untuknya. Dan poin lainnya, cita-cita saya tercapai: berlibur dengan pasangan halal saya.


Perihal sepatu; no comment, I don’t care anymore, and bye bye! Hahaha…

 

 

Photo by: Dinda Hertana

2 thoughts on “Liburan Bersama yang #Halal2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s