Dibalik #Halal2017

Sejauh dua puluh empat hari status saya sebagai –yang sebagian orang masih menyebutnya– “Pengantin Baru”, satu kosa kata yang begitu melekat setelah mengucap akad dan dinobatkan sebagai Pengantin Baru adalah “Rindu”. Rindu yang ada di dalam kepala dan dada adalah ramuan antara ingin segera bertemu dan ingin tahu lebih banyak lagi. Pacaran setelah menikah nyatanya memang memberi sensasi-sensasi tersendiri yang membuat perasaan meledak-meletup. Sensasinya seperti lidah yang dibanjiri minuman dingin bersoda. Kaget. Nikmat. Dan selalu ada rasa mau lagi dan lagi. *abaikan kalau soda adalah minuman yang tidak sehat.

 

 

 

 

 

Karena hubungan itu pernah dimulai dengan cara yang salah.

 

Seperti yang pernah saya tulis di tulisan sebelumnya “Menuju #Halal2017″, ya, saya memang telah mengenal istri saya saat di bangku kuliah dulu. Saat dia menjadi adik kelas dua tahun di bawah saya. Bahkan hampir semua orang-orang yang pernah bersinggungan dengan kami tahu kalau kami pernah mempunyai hubungan spesial. Hubungan tersebut tentunya hubungan yang sangat jauh dari koridor agama yang saya anut. Sampai pada akhirnya, saya menyudahi hubungan tersebut tidak lebih dari dua bulan, karena hubungan itu pernah dimulai dengan cara yang salah.

 

 

 

 

 

Sejak awal saya sudah menyiapkan benteng yang kokoh kalau-kalau masa lalu saya yang memang “jahiliyah” diangkat lagi ke permukaan.

 

Dengan masa lalu yang demikian, tidak dapat dipungkiri ketika saya menyebar undangan pernikahan banyak orang-orang di sekitar yang masih mengaitkan diri saya dan istri saya sebagai dua orang seperti di masa lampau. Mulai dari ceng-cengan, ledekan, sampai yang paling mengerutkan hati seperti sindiran tajam. Pertanyaannya, “apakah saya sakit hati?” tentunya tidak. Sejak awal saya sudah menyiapkan benteng yang kokoh kalau-kalau masa lalu saya yang memang “jahiliyah” diangkat lagi ke permukaan, tapi saya cukup menyadari bahwa itu adalah konsekuensi dari apa yang pernah saya lakukan di masa lalu. Ya, apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Dan Tuhan sangat adil untuk itu.

Beberapa orang yang penasaran memborbardir saya dengan pertanyaan yang sama, “gimana ceritanya?” dan jawabannya selalu sama saja, tahun lalu saya berencana untuk menikah, lalu sempat gagal dengan seseorang disebabkan sesuatu dan lain hal, lalu saya mantapkan lagi niat sambil terus belajar dan memperbaiki diri, ibadah terus dipacu semaksimal mungkin –walau nyatanya masih banyak yang belum dimaksimalkan–, sampai di suatu malam Tuhan menghadirkan seorang wanita (yang sekarang menjadi istri saya) di dalam mimpi. Berangkat dari mimpi itu dan beberapa pertanda lainnyalah yang akhirnya menitikkan sebuah keyakinan dalam diri saya untuk bismillah memulai proses ta’aruf dengannya.

 

 

 

 

 

Saya dan dia tidak pernah lagi bertemu selama lebih dari dua tahun dan nyaris hilang komunikasi selama hampir dua tahun.

 

Yang masih mengajukan pertanyaan “kapan jadiannya sama dia?” atau yang mengajukan pernyataan “ujung-ujungnya sama dia juga!” saya hanya bisa bilang bahwa proses yang kami jalani adalah proses di mana saya dan dia tidak pernah lagi bertemu selama lebih dari dua tahun dan nyaris hilang komunikasi selama hampir dua tahun. Lalu dengan apa komunikasi awal dimulai lagi setelah hitungan tahun tanpa kabar dan saling sapa? Jawabannya adalah saat saya bersilaturahim dengan orang tuanya yang sepekan setelahnya dilanjut dengan proses ta’aruf yang didampingi Murabi saya.
Lepas itu banyak juga komentar yang bermunculan, mulai dari “ya, iyalah gampang yakinnya buat ta’aruf, kan kamu udah pernah kenal dia”. Ya, benar, saya memang sudah pernah kenal dengan yang bersangkutan, tapi ada satu hal yang mungkin tidak banyak orang yang tahu. Menjelang memulai proses ta’aruf sampai pada saat ini, yang terhitung sudah dua puluh empat hari setelah pernikahan saya, saya harus bilang bahwa saya hampir tidak mengenal istri saya sendiri. aneh? Iya! Tapi itu yang saya alami. Kenangan-kenangan di masa lalu seperti hampir tidak ada yang tersisa di pikiran saya. Dan anehnya lagi, saya seperti merasakan awal perkenalan dengan orang baru. Dan itulah yang membuat perasaan saya meledak-meletup.


Masih lekat di ingatan saya bagaimana kikuknya saya saat harus memegang jari istri saya untuk menyematkan cincin pernikahan. Belum lagi saat Pak Penghulu memerintahkan yang aneh-aneh untuk saya lakukan. Bahkan saya sempat merasa canggung dan tidak nyaman saat istri saya merangkul tangan saya saat kami berdua hendak digiring ke pelaminan. Semua terasa begitu aneh dan membuat gugup diri sendiri.

Bagaimanapun mereka tetap berhak mengutarakan sesuatu di batas apa yang mereka tahu. 

dan pada kesimpulannya “kami menikah”. Saya tanggalkan semua pandangan dan perspektif orang-orang. Bagaimanapun mereka tetap berhak mengutarakan sesuatu di batas apa yang mereka tahu. Di sisi lain, saya pun harus berani menghadapi konsekuensi ketika masa lalu saya diangkat ke permukaan. Namun yang paling penting dan yang sangat saya nikmati adalah doa-doa yang membanjiri lewat ucapan langsung maupun yang berseliweran di media sosial. Rasanya sudah 26 tahun hidup belum pernah saya kebanjiran doa seperti saat ini. Semoga kita semua dilimpahi keberkahan dan kebahagiaan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s