Menuju #Halal2017


Ibarat bola voli, sudah di lambung, di smash, ditangkis, melambung lagi, smash lagi, sampai membentur keras ke lantai lapangan. Mungkin seperti itu keadaan yang saya alami setahun silam. Tidak dapat dipungkiri semua itu hasil dari apa yang saya tanam selama beberapa masa jauh di belakang. Karena memang sadar akan menumpuknya perbuatan-perbuatan yang semena-mena di masa lalu, sehingga saya terima-terima saja saat Allah menjadikan saya seperti bola voli. Satu hal yang saya pahami, Allah tidak semata-mata mengaduk-aduk skenario hidup saya, tetapi sambil menyiapkan saya untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya (semoga).

 

Yang lalu biarlah berlalu. Pembelajarannya di catat baik-baik. 

Tapi ngomong-ngomong, saya bukan sedang ingin cuap-cuap tentang masa lalu, karena yang lalu biarlah berlalu. Pembelajarannya di catat baik-baik, dan apa-apa yang kurang dipoles lagi biar makin manis. Hari ini –saat saya sedang menulis ini- tanggal 22 Juni 2017, tepat sebulan lagi saya akan mengikrarkan Mitsaqan Ghalizha kepada Allah. Ya, tepat tiga puluh hari lagi, saya akan melangsungkan pernikahan. Yang biasanya saya mendengar ucapan Ijab-Qabul, kali ini sayalah yang akan mengucapkannya.

Berhenti blaming sana-sini, berhenti merasa benar, dan berhenti menebak-nebak skenario Allah.

Nah, saya ingin bercerita tentang perjalanan saya menuju #halal2017. Berangkat dari masa kepedihan yang sempat mengurung saya di titik terendah tahun lalu, akhirnya saya memutuskan untuk fokus memperbaiki diri. Berhenti blaming sana-sini, berhenti merasa benar, dan berhenti menebak-nebak skenario Allah. Salah satu jalan yang saya pilih untuk proses penyembuhan saat itu adalah dengan mengenal aturan Allah dan salah satu sikap yang saya tanamkan dalam diri adalah Qana’ah atau menerima.


Ya, sejak tahun lalu saya memang sudah merencanakan untuk menikah, tapi belakangan saya akhirnya sadar, keinginan itu tidak didasari dengan niat yang benar. Mungkin banyak dikotori dengan hal-hal non-esensial yang jauh dari tujuan pernikahan itu sendiri. Sampai suatu hari, saat saya sedang berjalan-jalan di pasar tumpah –salah satu hobi saya- di dekat tempat tinggal saya, saya berhenti di salah satu tempat penjualan buku-buku bekas di pasar itu. Atas izin Allah, saya dipertemukan dengan sebuah buku berjudul “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”.

Sedikit demi sedikit mengetahui tentang pernikahan, membuat saya menyesali mengapa saya tidak menyegerakan menikah.

Buku tua, memang. Hasil buah pikir Mohammad Fauzil Adhim itu malah terbit pertama kali tahun 1997, sekitar dua puluh tahun lalu dan masih sangat diminati hingga saat ini. Buku itulah yang menjadi langkah awal saya untuk giat mempelajari tentang pernikahan sesuai aturan Islam. Lewat buku itu pula semua kepedihan yang sempat saya alami di tahun lalu disembuhkan. Karena hampir sebagian besar isi buku itu membenarkan atas kepedihan yang memang seharusnya saya alami. Setelah membaca buku ini pula saya rajin menambah beberapa koleksi baru seputar dunia pernikahan dan kehidupan rumah tangga, sampai beberapa kajian yang membahas tentang Hadits seputar Pernikahan. Sedikit demi sedikit mengetahui tentang pernikahan, membuat saya menyesali mengapa saya tidak menyegerakan menikah. Tapi, tentunya dengan skenario ini, Allah memang menyiapkan saya untuk berada pada titik ini di usia saya saat ini.

Seiring dengan berlangsungnya proses belajar seputar pernikahan dari buku, seminar, hingga channel youtube, sayapun terus meminta pada Allah untuk dapat dipertemukan dengan jodoh saya sesegera mungkin. Beberapa kali saya mengenal wanita yang sempat membuat saya tertarik dan berniat untuk menemui orang tuanya, namun ada saja petunjuk Allah yang membuat saya mengurungkan niat saya itu. Sampai akhirnya, di akhir tahun lalu –masih dalam proses belajar dan istikharah- saat saya sudah menyerahkan urusan pasangan ini pada Allah, Allah meracik skenario yang Maha Sempurna untuk saya.

Malam itu, tiba-tiba saja saya bermimpi bertemu dengan seseorang yang memang dulunya sempat mempunyai hubungan khusus dengan saya. Namun saya akui, hubungan kami saat itu sangat jauh dari ridha Allah. Ya, wanita itu muncul di dalam mimpi saya setelah lebih dari setahun kami tidak saling sapa dan saling berkabar. Mungkin bahasa kerennya lost contact sama sekali. Mimpi itu sempat membuat saya senyum-senyum memang saat bangun dari tidur. Dan karena memang sudah tiba waktu Subuh, sayapun bergegas melaksanakan shalat. Usai menunaikan shalat, tiba-tiba ada pesan masuk di Whatsapp handphone saya. Tidak ada nama. Hanya nomor saja. Saat saya baca pesan itu, cukup membuat saya kaget, pesan itu dikirim oleh Ibu dari wanita yang semalam baru saja nongol di mimpi saya. Isi pesannya memang hanya sekedar sapaan silaturahim. Tapi, saya sendiri sudah cukup lama tidak saling sapa dengan Ibunya. Sayapun mulai bertanya-tanya “apa makna dari dua kejadian ini?”

Karena sejak dulu sama sekali tak ada keinginan saya untuk berpasangan dengan wanita itu. 

Tidak sampai disitu. Masih di hari yang sama. Sore hari saat bersantai, saya klak klik handphone sambil baca ini itu dari satu laman ke laman lain. Tiba-tiba muncul sebuah posting yang masih berkaitan dengan wanita di mimpi saya semalam. Tidak dapat dihindarkan, ada reaksi kimia yang aneh di dalam kepala dan dada saya. Mulai dari hari itu, saya coba mencari pemahaman “apakah ini jawaban dari Allah?” “apakah benar ini wanita yang dipilihkan Allah?” “Mengapa bisa?” –karena sejak dulu sama sekali tak ada keinginan saya untuk berpasangan dengan wanita itu, walaupun Ibu saya yang sempat sekali bertemu dengan wanita itu, sangat menyukainya- “Benarkah Allah telah membolak-balikkan isi hati saya?” dan banyak lagi pertanyaan yang saya sendiri bingung untuk menjawabnya.

Kedatangan saya mungkin cukup mengagetkan wanita itu, karena saya dan guru saya muncul tiba-tiba di depan rumahnya tanpa sepengetahuannya.

Setelah memantapkan istikharah dan mengadukan pada salah seorang guru saya, akhirnya sayapun memantapkan hati untuk melangkah ke tahap yang disyariatkan agama. Padatnya kegiatan di awal tahun membuat saya tidak dapat segera berkunjung ke rumah orang tua wanita itu. Setelah melakukan komunikasi dengan Ibu si wanita –tanpa sepengetahuan wanita itu- saya membuat janji untuk bersilaturahim dengan di akhir bulan Januari lalu, tepat seminggu setelah hari lahir saya. Saya yang saat itu ditemani guru saya tiba tengah hari di kediamannya. Kedatangan saya mungkin cukup mengagetkan wanita itu, karena saya dan guru saya muncul tiba-tiba di depan rumahnya tanpa sepengetahuannya. Tetapi pertemuan yang memang diniatkan untuk silaturahim itu dapat cair saja dalam perbincangan antara saya, guru saya dan Ibunya, walaupun itu pertama kalinya saya bertemu Ibu wanita itu.

 

Selepas hari itu, guru sayapun menghubungi Ibu wanita itu untuk menyampaikan maksud dan tujuan saya yang ingin mengkhitbah putrinya. Setelah meminta waktu beberapa saat untuk istikharah serta meminta Visi dan Misi Keluarga yang akan dibangun kelak, wanita itu dan keluarganya pun menerima maksud baik saya. Tepat seminggu sebelum ulang tahun wanita itu, saya, Ibu saya, sepupu saya, dan salah satu rekan saya datang ke kediaman keluarga wanita itu untuk melangsungkan proses khitbah. Cincin yang sehari sebelumnya telah saya dan Ibu saya siapkan pun dipasangkan di jari manis wanita itu. Untuk kedua kalinya, Ibu saya memasangkan cincin ke jari manis wanita dalam proses khitbah, yang setahun lalu sempat mengkhitbah calon –saat ini istri- dari kakak laki-laki saya.

Bersembunyi-sembunyilah saat mengkhitbah, dan berterang-teranganlah saat menikah.

Pasca khitbah tak semata-mata membuat saya bersenang diri. Saya sadar, sebelum akad terucap, segala hal bisa terjadi. Itu pula yang membuat saya untuk tidak mengabar-ngabarkan dulu rencana pernikahan saya, karena jaraknya masih terhitung empat bulan –masih cukup lama bagi saya-. Belakangan saya mendapat nasehat di salah satu materi pernikahan, yang kurang lebih seperti ini: bersembunyi-sembunyilah saat mengkhitbah, dan berterang-teranganlah saat menikah. Ya, nasehat ini memang tujuannya menjaga martabat masing-masing pihak, kalau-kalau selepas proses khitbah terjadi sesuatu yang membatalkan rencana pernikahan yang khawatirnya membuat malu kedua belah pihak keluarga, na’udzubillah.


Karena diawali dengan proses ta’aruf, saya sendiri –dengan bimbingan guru saya tentunya- sangat menjaga proses tersebut. Sekalipun saya dan wanita itu sudah cukup mengenal di masa lalu, tak sekonyong-konyong membuat komunikasi kami bebas-bebas saja. Komunikasi kami hanya seperlunya. Tidak ada perbincangan yang hanya dilakukan berdua, karena saya sendiri khawatir perasaan di dalam diri terkotori dan tidak dapat dikendalikan. Itu mengapa akhirnya –atas saran guru saya- saya membuat group chat yang isinya saya, wanita itu  dan Ibunya, yang tujuannya agar perbincangan apapun seputar persiapan pernikahan dapat dibahas dalam batas-batas wajar dan tidak melenceng dari syariat. Insha Allah.

Gambaran tentang pernikahan yang mewah dan luxe yang dulu selalu saya bayang-bayangkan agaknya jauh dari pikiran saya. 

Semua persiapan pernikahan kami lakukan bersama, antara saya dan keluarga wanita, sedangkan keluarga saya memercayakan saya mengambil keputusan apapun yang terbaik. Beberapa kali saya berkunjung ke rumah wanita itu untuk mempersiapkan segala urusan pernikahan bersama keluarganya. Kami saling bagi tugas dan saling sharing seputar pernikahan yang memang sudah kami niatkan sejak awal, yaitu “Pernikahan yang sederhana namun kaya berkah”. Gambaran tentang pernikahan yang mewah dan luxe yang dulu selalu saya bayang-bayangkan agaknya jauh dari pikiran saya. Alasannya hanya satu, khawatir pernikahan ini jauh dari berkah Allah. Itulah mengapa sejak awal kami sepakat untuk mengabaikan hal-hal yang kurang esensial dan kurang memberi makna. Kami juga sepakat untuk tidak menghabiskan biaya yang terlalu besar untuk resepsi yang hanya sehari, karena yang lebih penting adalah kehidupan pasca resepsi. Namun demikian, kami tetap berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi tamu dan undangan di pernikahan kami kelak.

Saya yang sejak masa ta’aruf mengajukan Visi dan Misi Keluarga yang mengusung konsep “Hijrah” tak sungkan-sungkan mengajak sang calon untuk sama-sama belajar tentang ilmu pernikahan.

Mempersiapkan keperluan pernikahan ternyata hal yang cukup menyenangkan, walaupun tak jarang membuat pikiran sedikit ruwet, namun semuanya saya nikmati sebagai proses. Semua didiskusikan bersama, mulai dari katering, dekorasi, baju akad, baju resepsi, undangan, kado pernikahan, cincin pernikahan, souvenir, kotak seserahan, sampai buku tamu. Tapi kesibukan itu tak seberapa membekas bagi kami dibandingkan kesibukan mempersiapkan ilmu untuk kehidupan pernikahan. Saya yang sejak masa ta’aruf mengajukan Visi dan Misi Keluarga yang mengusung konsep “Hijrah” tak sungkan-sungkan mengajak sang calon untuk sama-sama belajar tentang ilmu pernikahan. Buku-buku dan video seputar ilmu penikahan pun saya pinjamkan. Puncaknya, kami sama-sama mengikuti Sekolah Pra Nikah yang diadakan Bidang Dakwah Masjid Salman – ITB. 

Kami terdaftar di angkatan ke-30. Sejak awal kami komitmen untuk tidak absen sekalipun dalam kelas ini. Saya sendiri banyak mengorbankan kegiatan-kegiatan yang diadakan di akhir pekan, bahkan saat saya menjadi panitia di beberapa acara. Namun si wanita effort-nya jauh lebih besar, satu-satunya hari libur di setiap akhir pekan tidak digunakan untuk beristirahat atau liburan, melainkan untuk memenuhi daftar hadir di Sekolah Pra Nikah. Setelah mengikuti kelas selama sembilan kali pertemuan, kami pun tuntas mengikuti penuh tanpa absen sekalipun.

Waktu semakin dekat. Jika ditanya apakah semua lancar-lancar saja, jawabannya tentu tidak. Ada tantangan sendiri yang memang membuat pikiran dan perasaan rasanya diperas-peras. Untunglah shalat menjadi obat, sehingga pikiran jauh dari rasa putus asa. Ya, bahkan hingga tulisan ini saya buat, tantangan itu masih nyata di dalam kepala saya. Dan sejauh yang saya tahu, memang setiap orang yang akan menikah selalu diuji, entahkah ujiannya datang dari keluarga, tetangga, wanita lain, atau bahkan calon pasangan kita sendiri. Memang, setan tidak pernah ridha untuk membiarkan sepasang manusia diikat dalam tali pernikahan yang sah dan halal, karena begitu banyak memang limpahan anugerah yang hadir dari sebuah pernikahan.

 

Allah mempertemukan saya dengan “Pernikahan” dengan cara dan aturannya yang Maha Benar, yang (insha Allah) sesuai syariatnya, bukan dengan pemikiran saya yang semena-mena dan super dangkal. 

Itulah perjalanan saya menuju titik ini. Saya tidak pernah menduga Allah menyiapkan skenario ini untuk saya. Skenario yang dibuat dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya. Allah mungkin pernah menghukum saya seperti bola voli setahun lalu, tapi di balik itu ada rahasia dan reward yang jauh lebih besar. Allah mempertemukan saya dengan “Pernikahan” dengan cara dan aturannya yang Maha Benar, yang (insha Allah) sesuai syariatnya, bukan dengan pemikiran saya yang semena-mena dan super dangkal. Cara Allah mengajari saya tentang pernikahan pada akhirnya membuat saya terus merasa penasaran dengan ilmu penikahan itu sendiri serta rahasia-rahasia keberkahan di dalamnya.

Dari apa yang sudah saya lewati selama setahun ke belakang ini, maka sangat layak jika “sabar dan ikhlas” dijadikan modal berharga bagi seorang muslim, karena dengan itulah segala ujian dan kenikmatan dunia dapat disikapi dengan bijak. Dan sebaik-baiknya pemberian bukanlah apa yang kita minta pada Allah, melainkan apa yang Allah ridhai pada kita.

Sebagai penutup tulisan menuju #halal2017 ini, perkenankan saya untuk memperkenalkan wanita itu, –yang insha Allah dengan ridha-Nya kami dapat sama-sama belajar untuk terus memperbaiki diri dalam ikatan pernikahan- dialah calon istri saya, Eka Aviandini Nurhidayah binti Joni Farkhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s