Nikah? Kenali Fikihnya, Segerakan Aksinya!


Pernikahan sudah ada sejak manusia pertama diciptakan. Ya, pernikahan yang pertama kali dilangsungkan adalah pernikahan antara Adam dan Hawa. Pernikahannya tentu keren, karena Allah langsung yang bertindak sebagai wali nikahnya, malaikat sebagai saksinya, shalawat sebagai maharnya, dan di surga lokasinya. Wait, jangan dibayangkan meriahnya resepsi pernikahan di surga, karena itu tidak jadi pokok pembahasan tulisan saya ini.

Wajib, ketika seseorang sudah mampu untuk menikah dan dikhawatirkan terjerumus ke arah zina jika tidak menikah.

Sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya, tulisan ini masih mengangkat tema pernikahan. Tulisan kelima dari topik pernikahan kali ini akan sedikit membahas tentang fikih nikah yang mana di dalamnya membahas seputar hukum dan aturannya. Dilihat dari hukumnya, terdapat lima hukum dalam pernikahan. Hukum yang pertama adalah jaiz dan ini adalah asal hukum dari pernikahan. Selanjutnya sunnah, ketika seseorang telah ingin dan mampu untuk menikah. Lalu wajib, ketika seseorang sudah mampu untuk menikah dan dikhawatirkan terjerumus ke arah zina jika tidak menikah. Ada pula makruh, ketika seseorang sudah ingin menikah tetapi belum mampu untuk memberi nafkah lahir ataupun batin, bentuknya tak hanya materi, bisa pula nafkah secara ilmu, misalnya ilmu yang diberikan suami kepada istri.

Melihat hukum nikah tersebut, kita sendirilah yang dapat menimbang-nimbang sudah di tahap mana hukum nikah yang jatuh pada kita. Jika memang hukumnya sudah wajib, maka segerakanlah, jangan mencari-cari pembenaran yang membuat kita menunda pernikahan dan menghalalkan perzinaan. Mungkin kita akan merasa takut dan khawatir dengan yang namanya pernikahan, namun kita harus percaya sepercaya-percayanya bahwa ketika Allah memberikan sebuah aturan maka tentu Ia menyiapkan pula solusi dan jalan keluarnya pada kita. Keyakinan itulah yang sebenarnya harus ditumbuhkan di dalam hati kita, sehingga kita bukan menumbuhkan kekhawatiran perihal pernikahan melainkan belajar lebih banyak dan berusaha lebih keras untuk siap menuju ke arah pernikahan.

Parahnya malah terjerumus ke arah zina karena tidak mampu memenuhi syarat-syarat yang tidak esensial tersebut.

 

Selain hukum nikah, ada pula rukun nikah. Mungkin sudah sangat familier bagi kita seputar rukun nikah ini, di mana hanya ada lima rukun nikah yang menjadikan sahnya pernikahan, yaitu adanya mempelai pria, mempelai wanita, wali nikah, dua orang saksi (jika saksinya adalah wanita maka empat orang saksi), dan yang terakhir ijab-kabul. Jadi, benar kata meme yang sering beredar di media sosial, jangan mempersulit pernikahan dengan syarat gelar di jenjang pendidikan tertentu, pekerjaan yang mapan, jumlah penghasilan yang memuaskan, rumah dengan sejumlah kamar, kendaraan pribadi mulai dari roda dua sampai yang tak beroda, keturunan dari orang terpandang, serta syarat-syarat lainnya yang memberatkan yang malah membuat kita menunda pernikahan dan parahnya malah terjerumus ke arah zina karena tidak mampu memenuhi syarat-syarat yang tidak esensial tersebut.


Hal lain yang juga harus diketahui seputar fikih nikah adalah tentang mahar, talak dan rujuk. Mahar sendiri dikemas dalam ungkapan manis ini “sebaik-baiknya wanita adalah yang mudah (ringan) maharnya”, yang mana diseimbangkan pula dengan ungkapan “sebaik-baiknya lelaki adalah yang memberi sebaik-baiknya mahar untuk wanita yang baik”. Hal ini mengajarkan kaum hawa untuk tidak memberatkan laki-laki dengan mahar yang terlalu besar dan berlebih-lebihan, sebaliknya lelaki dituntut untuk berupaya sebaik-baiknya agar bisa memberikan mahar terbaik untuk wanita yang akan dinikahi. Bayangkan, betapa indahnya Islam mengatur hal ini. Tujuannya tentu untuk memudahkan pernikahan dengan tetap menjaga kemuliaannya.

Talak atau cerai adalah sesuatu yang halal dalam Islam, tapi ingat baik-baik, Allah membenci perbuatan ini.

Selanjutnya yang harus kita kenali adalah perihal talak. Talak atau cerai adalah sesuatu yang halal dalam Islam, tapi ingat baik-baik, Allah membenci perbuatan ini. Terdapat empat hukum talak, yang pertama makruh, dan ini merupakan asal dari hukum talak. Selanjutnya wajib, ketika di dalam pernikahan terdapat situasi seperti zalim, aniaya, dan sebagainya yang menurut dua hakim tidak bisa diselamatkan dan harus dilakukan perceraian. Lalu ada pula sunnah, ketika pasangan tidak dapat memberi nafkah baik lahir maupun batin ataupun ketika salah satu pasangan tidak dapat menjaga kehormatan rumah tangganya. Dan yang terakhir adalah haram, yaitu talak yang dilakukan pada saat seorang istri sedang dalam keadaan haid atau talak yang dilakukan seusai melakukan hubungan suami istri. Nah, berbicara tentang talak tentu tidak lepas juga dengan hukum dan aturan tentang yang berkaitan dengannya seperti masa iddah dan rujuk, mungkin kamu bisa membacanya dari sumber lain.

 

Nah, setelah paham fikih dalam pernikahan, bagi kamu yang ingin melanjutkan langkah ke arah pernikahan perlu adanya pertimbangan-pertimbangan yang matang saat memutuskan akan menikah, namun Islam mengajarkannya dalam rangkaian ta’aruf atau proses saling mengenal. Saling mengenal tentunya tidak dengan cara berpacaran, karena hubungan pacaran sama sekali tidak dapat dijadikan patokan untuk itu, dan Islam sangat melarang keras. Islam mengatur dengan baik cara berta’aruf yang benar dan sesuai syariat.

Dalam masa ta’aruf, pertimbangkan baik-baik calon pasangan kita. Untuk laki-laki, wanita yang baik untuk dipilih diantaranya yang beragama dan menjalankan perintah agamanya, sehat dan subur sehingga dapat memberikan keturunan, serta masih perawan. Tentunya itu bukan syarat mutlak, jika kita dipertemukan dengan pasangan yang tidak seideal, misalnya saja calon pasangan kita mengidap penyakit sesuatu atau tidak subur, itu sah-sah saja asalkan kita ridha dan mampu menerima, karena yang terpenting adalah bagaimana ia dengan agamanya. Bagi wanita sendiri juga harus dipahami bahwa orang tua berhak meminta kamu untuk menikah asalkan dengan alasan yang syar’i, terlebih jika tujuannya untuk menyadarkan kamu akan pentingnya pernikahan. Dan perlu diingat, laki-laki dan wanita mempunyai hak istimewa perihal menetapkan calon, yaitu laki-laki mempunyai hak istimewa untuk memilih wanita yang ingin dinikahinya dan wanita memiliki hak istimewa untuk menentukan laki-laki yang pantas menjadi imamnya. Selain itu, keduanya juga harus mempertimbangkan apakah mereka sekufu (sepadan) atau tidak. Patokannya tidak hanya antara kita dan calon kita saja melainkan juga dengan melihat kedua belah pihak keluarga.

Waktu normalnya dari masa khitbah ke pernikahan adalah sekitar satu sampai tiga bulan. 

Jika proses ta’aruf dipermudah, jangan menunda terlalu lama untuk melangsungkan proses khitbah. Khitbah ini sendiri hukumnya sunnah, jadi boleh saja jika merasa cocok saat masa ta’aruuf segera melanjutkan ke proses pernikahan. Untuk waktu juga sebaiknya disegerakan –tetapi bukan diburu-buru, waktu normalnya dari masa khitbah ke pernikahan adalah sekitar satu sampai tiga bulan, dan sebaiknya tidak lebih dari enam bulan. Hal ini tujuannya selain khawatir menzalimi si wanita yang telah diikat oleh si laki-laki juga dikhawatirkan semakin banyak godaan yang muncul yang semakin memberatkan keduanya.

Ya, demikianlah ulasan saya kali ini yang membahas seputar fikih nikah. Saya akui, ini materi yang paling sulit, apa lagi saya bukan yang ahli di bidangnya. Saya hanya mencoba mentransfer apa yang saya dapat dari berbagai sumber. Pembahasannya juga saya akui tidak begitu mendalam, oleh karena itu saya sarankan untuk dapat membaca rujukan-rujukan yang lebih luas lagi. Namun saya tetap berharap tulisan ini memberi sedikit manfaat bagi pembacanya. Syukur-syukur yang membacanya semakin semangat untuk maju ke arah pernikahan yang diridhai Allah. Amin.

 

 

Inspirasi tulisan dari:

Beberapa buku pernikahan, Seminar Pra Nikah, Ust. Adi Hidayat, dan Ust. M. Yani..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s