Pernikahan, Benturan Dua Karakter Berbeda

IMG_1452.JPG

Lagi, lagi dan lagi saya menulis tentang pernikahan. Sebenarnya ada sembilan tulisan tema pernikahan yang ingin saya share, tapi ini baru sampai pada tulisan keempat. Kali ini saya ingin mengulas sedikit tentang mengenal karakter diri dan pasangan. Ini penting, karena dalam pernikahan terdapat tabrakan hebat antara dua karakter manusia yang berbeda. Misalnya saja, yang biasanya rapi, dipertemukan dengan yang berantakan, atau yang suka makanan pedas disatukan dengan yang tidak suka pedas, dan banyak lagi kasus lainnya.

Karena dengan ikatan pernikahanlah penyaluran hasrat seksual yang tadinya diharamkan menjadi halal dan bernilai ibadah.

Bila dilihat dari tujuannya, pernikahan itu sendiri memiliki beragam tujuan, mulai dari memenuhi kebutuhan biologis, kebutuhan psikologis, kebutuhan sosiologis, sampai tujuan yang paling utama, yaitu tujuan ibadah. Mari kita lirik satu per satu tujuan tersebut. Yang pertama menikah dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan biologis. Ya, memang sudah fitrahnya seorang manusia yang sudah cukup umur memiliki hasrat seksual yang dapat disalurkan dengan cara yang benar. Pernikahan sendiri menjadi jembatan yang paling sempurna untuk mewadahi kebutuhan biologis tersebut, karena dengan ikatan pernikahanlah penyaluran hasrat seksual yang tadinya diharamkan menjadi halal dan bernilai ibadah. Selain itu banyak pula keutamaan lainnya.

Sebagaimana Adam yang merasa gelisah saat sendiri tak berteman saat di surga, lalu Allah menciptakan Hawa untuk menjadi teman baginya.

Yang kedua adalah menikah karena kebutuhan psikologis. Setiap manusia memiliki ketergantungan emosi dengan orang lain, khususnya orang-orang yang dikasihi. Ketergantungan ini syarat dengan apa yang ada di dalam perasaan, seperti rasa ingin mencintai, rasa ingin memiliki, maupun rasa ingin merindui. Dalam pernikahanlah semua ketergantungan perasaan-perasaan ini dapat diwujudkan sebagaimana yang dimiliki seseorang atas pasangannya. Lain halnya jika tanpa ikatan pernikahan. Selanjutnya adalah pernikahan karena tujuan sosiologis. Mungkin kita semua sudah sering dengar, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hal ini pernikahan juga mengambil peran untuk memenuhi kebutuhan sosiologis seseorang, sebagaimana Adam yang merasa gelisah saat sendiri tak berteman saat di surga, lalu Allah menciptakan Hawa untuk menjadi teman baginya. Tidak dapat dipungkiri memang, sudah hakikatnya seseorang merasa tentram saat memiliki pasangan di dalam hidupnya.

IMG_2852.JPG

Sedangkan tujuan yang terakhir adalah tujuan ibadah. Pernikahan yang dilaksanakan dengan niat ibadah tentu akan melahirkan perilaku-perilaku yang menunjang ibadahnya kepada Allah. Melalui pernikahan akan diraup sebanyak-banyaknya manfaat untuk meraih kasih sayang Allah. Dengan niat ibadah pula ketiga tujuan di atas dapat diformulasikan menjadi ibadah dengan pasangan. Itulah kenapa ibadah menjadi alasan penting bagi seseorang yang memutuskan untuk menikah.

Sebelum kita mengenal lebih dalam karkater pasangan kita ada baiknya kita mengenal terlebih dulu karakter diri sendiri.

Lalu, bagaimana mencapai tujuan ibadah tersebut ketika kita berhadapan dengan pasangan yang memiliki karakter yang berbeda dengan kita? Bagaimana pula kita bisa menciptakan keluarga berkualitas jika ada batasan-batasan yang dibenturkan dengan karakter pasangan kita? Maka jawabannya adalah saling mengenal karakter diri dan pasangan. Ya, sebelum kita mengenal lebih dalam karkater pasangan kita ada baiknya kita mengenal terlebih dulu karakter diri sendiri, tujuannya apa? agar kita tahu sikap apa yang harus dievaluasi untuk bisa diterima oleh pasangan kita dan sikap mana yang harus ditonjolkan untuk meningkatkan kualitas diri kita dan pasangan kita.

Bahwa setiap karakter manusia berbeda dan sifatnya fatamorgana. Tidak pasti.

Selanjutnya adalah mengenal karakter pasangan kita. Cara terbaik untuk meracik dua karaketer yang berbeda adalah dengan memahami terlebih dahulu bahwa setiap karakter manusia berbeda dan sifatnya fatamorgana. Tidak pasti. Perbedaan karakter ini wajar saja, mengingat setiap orang hidup dalam bentukan keluarga, lingkungan, geografis, dan situasi berbeda lainnya. Selain faktor tersebut, ada pula faktor lainnya yang mendukung pembentukan karakter ini, seperti faktor genetika ataupun karena faktor adanya proses belajar. Nah, dikarenakan dalam pembentukan karakter terdapat proses miroring, maka karakter yang muncul adalah hasil bentukan dari faktor-faktor di atas tadi.

IMG_1677.JPG

Melihat adanya proses pembentukan karakter, maka karakter yang sifatnya fatamorgana tersebut selalu bisa berubah-ubah, dan besar kemungkinan akan ada karakter yang berubah dari dalam diri yang disebabkan oleh kebiasaan baru yang muncul setelah kita hidup dengan pasangan. Oleh karena itu, untuk menjaga potensi diri kita dan pasangan perlu adanya ruang toleransi. Ruang toleransi inilah akan yang menjadi senjata ampuh untuk kita dan pasangan saling berkembang. Dengan begitu, maka akan lebih mudah merancang tujuan yang sama dalam sebuah pernikahan. Dan buat kamu-kamu yang ingin atau sedang menjalani proses ta’aruf, jangan terpesona dengan fisiknya saja, lihat karakter pasanganmu lewat keluarga, teman dan lingkungannya. Sehingga nantinya akan lebih mudah menemukan ruang-ruang toleransi.

 

 

 

 

Inspirasi tulisan dari:

Beberapa buku pernikahan, Seminar Pra Nikah, Trainer Oji, dan Ust. Khalid Basalamah.

 

 

Catatan: Semua foto adalah ilustrasi milik pribadi dan milik Rey

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s