Komunikasi Pra dan Pascanikah? Ada Aturannya!

IMG_2846.JPG

Komunikasi salah satu tiang paling penting dalam sebuah pernikahan. Dari setiap materi seputar rumah tangga yang disampaikan, hampir semuanya menyebutkan kata yang mujarab ini: coba dikomunikasikan saja dengan pasangan. Komunikasi dianggap penting karena komunikasilah yang menjembatani segala urusan yang berada di luar pemahaman kita, misalnya pasangan tidak peka terhadap hal-hal kecil, maka komunikasi menjadi jembatan bagi pasangan untuk menangani kendala tersebut.

…kedua belah pihak harus saling bisa menjaga diri dari komunikasi yang dilarang dalam aturan syariatnya.

Berbicara tentang komunikasi, kita harus bedakan pula antara komunikasi pranikah dan pascanikah. Dalam hal komunikasi pranikah –seperti yang sudah lazim diketahui– komunikasi dari dua orang yang bukan mahram sangat dikhawatirkan menimbulkan gangguan-gangguan hati yang nantinya berujung pada dosa. Namun bagaimana pula untuk mereka yang sedang dalam proses ta’aruf? Nah, untuk hal ini kedua belah pihak harus saling bisa menjaga diri dari komunikasi yang dilarang dalam aturan syariatnya. Komunikasi dalam bentuk perbincangan yang bermaksud untuk lebih mengenal calon pasangan dapat dilakukan dengan menghadirkan mediator atau dengan cara bertanya jawab langsung kepada orang tua si calon pasangan.

DSC_2593.jpg

Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak untuk saling tahu tentang calonnya masing-masing, hanya saja ada batasan-batasan pola komunikasi yang harus dijaga, karena khawatirnya komunikasi yang dilakukan langsung oleh kedua calon dapat berujung pada timbulnya fitnah. Dilihat dari sisi lain, mencari informasi dari calon yang bersangkutan sangat besar kemungkinan untuk kita memperoleh informasi yang tidak benar adanya, karena tidak dapat dipungkiri setiap orang pasti masih jaim (jaga image) –kata anak sekarang– untuk menunjukkan sifat atau pribadi aslinya. Itulah mengapa segala hal yang berkaitan dengan calon pasangan dikomunikasikan langsung dengan orang tuanya. Untuk laki-laki biasanya dapat digali dari ibunya, untuk perempuan biasanya dapat digali dari ayahnya.

Di sinilah kita menggunakan komunikasi sebagai kunci dari segala permasalahan yang mungkin saja timbul.

Dalam hal komunikasi pascanikah, pola yang digunakan juga tentunya beda. Setelah hidup dan tinggal dengan pasangan pilihan Allah, kita akan menemui banyak sekali perbedaan. Kita akan menemui fase dimana ruang-ruang privasi kita terobrak-abrik dengan pasangan yang hidup bersama kita. Perbedaan akan terus ditemui mulai dari kebiasaan, cara berbicara, bersikap, sampai hal-hal kecil lainnya. Di sinilah kita menggunakan komunikasi sebagai kunci dari segala permasalahan yang mungkin saja timbul.

IMG_2853.JPG

Komunikasi dengan pasangan sebaiknya dilakukan dengan membuang rasa sungkan. Sampaikan segala hal yang menjadi kenyamanan dan ketidaknyamanan kita. Jika menemui kendala di dalam rumah tangga, komunikasikan secara baik-baik dengan pasangan, jangan melibatkan orang tua, karena pasca menikah kita telah memiliki tanggungjawab untuk menuntaskan masalah dengan pasangan. Pelibatan orang ketiga, baik orang tua, teman, dan lainnya seringkali malah membuat permasalahan semakin besar, karena adanya pandangan-pandangan subjektif. Namu jika dirasa masalah begitu sulit diatasi, hadirkan mediator yang cukup netral untuk membantu menyelesaikan permasalahan di dalam rumah tangga.

Komunikasi yang juga tak kalah pentingnya adalah saat kita mau menyampaikan pujian dan sanjungan dari apa yang dilakukan pasangan kita.

Di luar permasalahan di atas, komunikasi tidak melulu saat kita dan pasangan menemui kendala di dalam rumah tangga, komunikasi yang juga tak kalah pentingnya adalah saat kita mau menyampaikan pujian dan sanjungan dari apa yang dilakukan pasangan kita. Bahkan, jika kita dapat meramu sebuah kritikan dalam bentuk pujian, ini juga akan menjadi cara yang ampuh untuk memunculkan empati dan rasa saling menghormati satu sama lain. Cara lain yang juga dapat diterapkan adalah dengan menghadirkan doa yang baik dalam setiap komunikasi kita baik dengan pasangan, anak, maupun orang tua.

IMG_2867.JPG

Selain dengan pasangan, komunikasi pasca nikah juga tak lepas dari hubungannya dengan anak dan mertua. Buat kesepakatan dengan pasangan tentang peran masing-masing dalam membentuk komunikasi dengan anak dan mertua. Temukan cara-cara terbaik untuk dapat menghadirkan komunikasi yang tepat dengan tetap menjaga privasi rumah tangga. Terlebih lagi saat hadirnya anak. Orang tua tentunya ingin ikut ambil peran dalam hal ini, dan ini wajar saja, namun sebisa mungkin berikan pandangan kepada orang tua masing-masing agar apa yang kalian tanamkan di rumah kepada anak-anak tidak meleset jauh dari koridornya.

IMG_2852.JPG

Sebagai penutup, ada baiknya saya tuliskan beberapa cara berkomunikasi yang baik, yang diantaranya mengandung rasa saling menghormati, terdapat empati, mengandung hal yang baik didengar, disampaikan dengan jelas (tidak multitafsir), dan disampaikan dengan rendah hati. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, maka siapapu yang menjadi lawan berbincang akan mudah menerima apa yang kita sampaikan. Jangan lupa,

 

Inspirasi tulisan dari:

Beberapa buku pernikahan, Seminar Pra Nikah, Ust. Sunardi, dan Ust. Khalid Basalamah.

 

Catatan: Semua foto hanya ilustrasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s