Nikah, Motivasinya Adalah…

Ada yang pernah bilang pada saya, “sejeli apapun memilih (pasangan) tetap saja kamu tidak akan pernah tahu (dia) sesungguhnya. Bahkan biasanya kamu akan diuji dari apa yang menjadi motivasi kamu dari pernikahan itu. Misal, kamu menikahi pasanganmu karena dia cantik atau tampan, nanti kamu akan diuji dengan kecantikan atau ketampanannya. Kalau kamu menikahi pasanganmu karena dia kaya, nanti kamu akan diuji dengan kekayaannya. Kalau kamu menikahi pasanganmu karena dia tenar, kamu pun akan diuji dengan ketenarannya itu. Nikah itu seni menerima pasangan dengan apa adanya, kalau berminat langsung bungkus, tidak usah pakai bla bla bla”.

 

Kata-kata itu disampaikan oleh seorang laki-laki yang memutuskan menikah tanpa pacaran dan tanpa pilah-pilih ini-itu. Yang menjadi modal keyakinannya adalah karena si calon pasangan tersebut sholehah dan bisa menjadi motivasi untuk beribadah. Jadi tak heran jika drama yang terjadi di dalam rumah tangga mereka adalah drama yang berkualitas dan mengantarkan kehidupan rumah tangga mereka ke tingkatan yang lebih baik.

Banyak tantangan dan perjuangan yang dilalui. Begitu juga dengan pernikahan, jika dilihat dari kejauhan terasa indah, namun di dalamnya penuh dengan ujian.

Setiap orang pasti ingin menikah. Dan setiap orang tentu memiliki motivasi dari pernikahan itu. Apa lagi belakangan ini pernikahan merupakan momok yang menghantui bagi mereka-mereka yang sudah mencapai usia pelaminan, namun belum ada calon pasangan yang menjemputnya. Di balik tren inilah muncul berbagai motivasi dalam menikah, mulai dari pembuktian, lomba saling salip, sampai motivasi-motivasi lainnya. Terlepas dari itu, ada pula yang menikah karena dimotivasi oleh hal-hal seperti yang telah saya sampaikan di paragraf pertama tadi. Intinya, masih menitik beratkan motivasi menikah dengan hal-hal yang sifatnya tidak esensial (Baca postingan sebelumnya, Ta’aruf: Meraba Rasa, Bukan Menilai Raga), padahal pernikahan memiliki keistimewaan yang lebih dari itu semua.

DSC_0841.JPGLalu, jika pernikahan bukan dilandasi dengan motivasi-motivasi di atas, lantas atas dasar motivasi apa? jawabannya sederhana, menikahlah dengan motivasi “ibadah”. Mengapa? Karena pasca pernikahan hidup tak hanya indah manisnya saja. Ibarat melihat gelar pendidikan di belakang nama, bukankah indah dilihat? Tapi apakah untuk memperoleh gelar tersebut perjalanannya mulus-mulus saja? Tentu tidak. Banyak tantangan dan perjuangan yang dilalui. Begitu juga dengan pernikahan, jika dilihat dari kejauhan terasa indah, namun di dalamnya penuh dengan ujian. Nah, dengan motivasi ibadah itulah semua ujian-ujian pernikahan bisa menjadi senjata ampuh untuk mengantar kita pada kualitas pernikahan yang lebih baik.

 Pada akhirnya akan melahirkan pernikahan yang saqinah (menentramkan), mawaddah (penuh rasa cinta), dan rahmah (kasih sayang).

Banyak kita lihat pernikahan yang tidak dilandasi dengan niat ibadah, alhasil setiap permasalahan yang muncul dalam rumah tangga dihadapi dengan pembenaran akal sendiri yang tidak jarang mencederai pernikahan itu sendiri. Tidak adanya motivasi ibadah yang menjadi bingkai pernikahan menjadikan kita salah dalam memaknai ujian di dalam rumah tangga. Setiap ujian disikapi dengan cara yang salah, dan di situlah setan bermain-main untuk terus membumbui sebuah rumah tangga jauh dari keharmonisan dan berujung perceraian. Sang istri tidak bisa masak dijadikan masalah besar, sang suami pulang dengan gaji pas-pasan dijadikan alasan untuk tidak berbakti, dan hal-hal lain yang hilang nilainya karena tidak digenapi dengan ibadah. Ingat, setan dengan tingkat keberhasilan tertinggi dan dipensiunkan dini adalah mereka yang berhasil memisahkan dua orang dari ikatan pernikahan, karena memang dalam pernikahanlah banyak limpahan-limpahan nilai ibadah yang setan tidak mengehendakinya.


Oleh karena itu, pernikahan yang dimotivasi dengan ibadah nantinya akan mampu mengubah setiap permasalahan di dalam rumah tangga menjadi ladang ibadah, yang pada akhirnya akan melahirkan pernikahan yang saqinah (menentramkan), mawaddah (penuh rasa cinta), dan rahmah (kasih sayang). Dengan keikhlasan hati dari ibadahlah ketiga hal ini bisa terwujud, karena memang pada dasarnya kita menikah untuk mencari kesempurnaan dari ketentraman, cinta dan kasih sayang. Dan tiga hal inilah yang akan menjadi bahan bakar kendaraan kita bersama pasangan kita untuk berjalan semakin dekat dengan-Nya.

 

 

Inspirasi tulisan dari:

Beberapa buku pernikahan, Seminar Pra Nikah, Ust. Adi Hidayat, dan Ust. Ayi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s