Ta’aruf: Meraba Rasa, Bukan Menilai Raga (Bag. 2)

Lanjutan…

17903424_10208319460373367_8903901608993384439_n.jpg

Selanjutnya, jika jodoh dikaitkan dengan kata “kecocokan” maka kita harus memahami pula konsep dari kecocokan itu sendiri. Ada empat perbedaan makna dari kecocokan, yang pertama kecocokan yang berlandaskan kesamaan, misalnya sarung bantal corak bunga-bunga akan cocok pula dengan seprai corak bunga-bunga. Yang kedua adalah kecocokan yang tercipta dari perbedaan, misalnya sendok akan cocok dengan garpu, dan akan terlihat aneh pula jika sendok dipasangkan dengan sendok atau garpu dengan garpu. Selanjutnya kecocokan yang juga masih hasil dari perbedaan, misalnya dayung dan layar pada perahu, keduanya cocok untuk membantu laju perahu. Dua contoh terakhir menunjukkan adanya perbedaan dari dua buah benda namun jika disatukan akan tercipta kecocokan. Nah, diantara contoh-contoh itu terdapat pula contoh kecocokan lain, seperti laki-laki dan perempuan. Contoh yang terakhir ini adalah tipe kecocokan yang paling kontras. Itu mengapa laki-laki dan perempuan yang bersatu akan bisa saja cocok, asalkan tahu bagaimana menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada.

Jika kita bertindak sebagai penilai yang sifatnya artifisial itu bukankah kita seperti menyalahkan takdir yang Allah SWT berikan pada seseorang?

Sekarang mari kita kembali lagi pada kasus paradigma-paradigma yang keliru dalam proses ta’aruf. Sebagai orang yang tengah menjalani proses ta’aruf janganlah terlalu kejam sehingga menjadi penyeleksi calon-calon yang datang menghampirimu, apa lagi dengan alasan yang sangat artifisial, seperti oh dia gak setara pendidikannya dengan saya, oh dia beda suku dengan saya, oh dia gak serupawan saya, oh dia bukan lulusan dari universitas X seperti saya, oh dia bukan keturunan bangsawan seperti saya, dan oh oh lainnya yang sifatnya sangat fiktif dan bisa jadi tidak punya makna di mata Allah SWT. Yang kelirunya lagi, kita terkadang lupa bahwa semua yang kita oh-kan itu adalah bagian dari takdir Allah SWT. Pertanyaannya, “Siapa yang menentukan kita mampu menuntut pendidikan sampai di tingkat apa? siapa yang memberikan wajah pas-pasan pada kita? siapa yang menentukan kita lahir dari suku apa? siapa yang menakdirkan kita untuk akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di universitas X, Y, atau Z? Dan siapa yang menakdirkan kita lahir dari keturunan apa dan apa?” Jawabannya mutlak, semua itu adalah kehendak Allah SWT. Jadi, jika kita bertindak sebagai penilai yang sifatnya artifisial itu bukankah kita seperti menyalahkan takdir yang Allah SWT berikan pada seseorang?

IMG_2522.JPG

 

Lalu bagaimana sikap yang benar dalam berta’aruf? Sikap yang benar adalah dengan mencoba untuk menerima. Gali hal-hal yang lebih esensial dari seseorang, coba untuk meraba rasa di dalam diri yang mungkin ditutup-tutupi oleh hasutan setan. Misalnya, dia pendidikannya lebih rendah dari saya tapi kemampuannya dalam berbisnis jauh melampaui saya. Atau, dia tidak serupawan saya tapi akhlaknya bisa jadi contoh bagi banyak orang. Dengan penekanan pada hal-hal yang esensial maka akhirnya kita bisa bersikap lebih adil dan menempatkan seseorang pada peran terbaiknya, karena sebagai manusia kita tidak berhak mengadili seseorang berdasarkan apa yang kita lihat melainkan Allah SWT lah yang berhak untuk itu.

Ta’aruf atau proses mengenal tak akan pernah usai bagi dua orang yang mengayuh dayungnya dalam bahtera rumah tangga.

Setelah kita berhasil menanggalkan sikap “menilai raga” dan fokus dengan “meraba rasa”, selanjutnya serahkan pada yang memiliki takdir. Setelah kita pasrahkan maka Allah SWT akan memberikan jawabannya apakah ia jodoh kita atau bukan. Kita percayakan saja bahwa apa yang baik di mata kita belum tentu baik di mata Allah SWT, dan sebaliknya, yang buruk di mata kita belum tentu buruk di mata Allah SWT.

IMG_3577.JPG

Sebagai penutup, dalam tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa lebih terbukalah dalam menghadapi proses ta’aruf. Jangan langsung menghapus seseorang dari daftar lantaran ada satu hal buruk yang kita tidak suka, apa lagi tanpa mempertimbangkan sembilan hal baik yang ada dalam dirinya. Dan pula, jangan terlalu banyak syarat dan kriteria dalam mencari pasangan. Dari yang pernah saya dengar “dalam hukum statistik, semakin banyak syarat maka semakin kecil peluang”, artinya jika kita merincikan berbagai macam syarat untuk pasangan kita maka akan semakin sulit juga kita memperoleh pasangan. Selain itu, jangan pula mengira ta’aruf adalah proses yang dilakukan sebelum khitbah dan akad saja, ta’aruf akan terus berlangsung sampai sepasang manusia dipisahkan oleh takdir, termasuk kematian. Ya, ta’aruf atau proses mengenal tak akan pernah usai bagi dua orang yang mengayuh dayungnya dalam bahtera rumah tangga. So, selamat berta’aruf!

 

 

 

Catatan:

Tulisan ini terinspirasi dari bebeberapa kajian yang membahas tentang ta’aruf dan pernikahan. Big thanx to Bang Aat dan Kang Abay.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s