Ta’aruf: Meraba Rasa, Bukan Menilai Raga (Bag. 1)

cara-taaruf.jpg

Ta’aruf, sebuah kata yang begitu familiar di telinga namun masih begitu tabu untuk diaplikasikan dalam kehidupan bagi kebanyakan orang. Ya, boleh saja jika kebanyakan orang mendefinisikan ta’aruf ini seperti “membeli kucing dalam karung”. Asumsi semacam ini sebenarnya sama sekali tidak dapat dibenarkan, apa lagi dengan asumsi-asumsi liar yang masih mengandalkan logika pribadi tanpa melihat konsep-konsep ta’aruf secara menyeluruh. Memang, sebaiknya kita selami dulu suatu hal sebelum kita membiarkan asumsi kita menari-nari bebas. Tapi kali ini saya bukan ingin membahas tentang konsep ta’aruf yang sesuai syariat, melainkan ingin membahas sedikit tentang sikap-sikap dasar yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang akan maupun sedang berta’aruf.

Yuk, mari kita berangkat dari judul di atas. Judul yang saya angkat mengandung dua sikap dalam ta’aruf, yaitu “meraba rasa” dan “menilai raga”. Sebelumnya mari kita samakan dulu persepsi dari dua ungkapan tersebut menurut definisi yang saya maksudkan. “Meraba rasa” dalam konteks ini saya maksudkan untuk sebuah sikap yang lebih mempertimbangkan hal-hal esensial dalam menentukan pilihan, sedangkan “menilai raga” saya artikan sebagai sebuah  sikap yang memposisikan diri sebagai penilai hal-hal yang bersifat artifisial (fiktif atau tidak alami). Jadi, “meraba rasa” sederhananya dekat dengan hal yang esensial sedangkan “menilai raga” dekan dengan hal yang artifisial.

Meraba rasa dalam konteks ini saya maksudkan untuk sebuah sikap yang lebih mempertimbangkan hal-hal esensial dalam menentukan pilihan…

Nah, bagaimana sikap kita sebagai orang yang sedang melakukan ta’aruf? Pertama-tama kita harus merubah dulu paradigma dari ta’aruf. Ta’aruf itu bukan wadah untuk kita menyeleksi, menilai, menghakimi, apa lagi menghapus orang dari daftar pilih. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan ta’aruf, karena ta’aruf adalah wadah untuk kita mengenal seseorang, bukan memberi penilaian terhadap seseorang. Banyak cerita yang mengisahkan tentang sulitnya seseorang bertemu dengan jodohnya. Pertanyaannya adalah “apakah memang sesulit itu bertemu jodoh?” jawabannya tentu tidak.

DSC_0009.JPG

Konsep jodoh tidak sesempit Fulan berjodoh dengan Fulanah, akan tetapi konsep jodoh adalah manusia berkualitas A akan berjodoh pula dengan manusia yang berkualitas A. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam surat An Nur (23) ayat ke 26. Di dalam ayat itu diterangkan bahwa yang baik untuk yang baik dan yang buruk untuk yang buruk. Artinya jodoh itu berseliweran di mana-mana, karena orang-orang yang sekualitas dengan kita tentu bukan hanya ada satu di dunia ini. Nah, berbicara kualitas juga kita harus telaah lagi. Kualitas yang dimaksud adalah kualitas yang sesuai dengan penilaian dari Yang Maha Adil, bukan dari penilaian kita semata. Jadi, orang yang optimis bukan berarti tidak sekualitas dengan orang yang pesimis. Jangan-jangan ada aspek-aspek lain yang membuat kita sebenarnya sekualitas dengan orang tersebut. Berikut ini saya coba berikan ilustrasinya dalam bentuk tabel.

Karakter/Sifat Nilai Kualitas
Laki-laki Perempuan
Optimis 80 25
Ketelitian 40 95
Kemauan Belajar 55 70
Empati 35 80
Logis 90 30
TOTAL 300 300

Tabel di atas merupakan sebuah ilustrasi di mana setiap manusia ada kurang dan lebihnya, dan itulah yang akan nantinya saling melengkapi –dalam konteks jodoh. Bayangkan saja jika laki-laki dan perempuannya sama-sama memiliki cara berpikir logis yang tinggi, lantas siapa yang akan menyeimbangkkan dengan hati? Nah, di situlah peran dari perbedaan sikap dan kebiasaan.

 

Bersambung…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s