Masa Lalu: Biarkan aku menyusup diam-diam


Jangan tanya pukul berapa, apalagi detik ke berapa. Yang saya tahu, saat itu tanggalan menunjuk pada angka ke 28 di bulan November. Hari senin menjelang siang hari. Dia datang dalam keadaan diri yang “tidak tahu apa-apa”. Hanya diam dan senyum-senyum sendiri di atas baby carrier yang tengah dijinjing ibunya. Selang berapa detik ia di letakkan di samping meja panjang, semua orang berkerumun ke arahnya. Orang-orang datang seperti semut merindukan gula. Tak bedanya saya sendiri. Pun datang menghampiri baby carrier-nya.

“Tapi tentang masa lalu yang bereinkarnasi lewat sosok kecil mungil dan selalu membikin isi kepala penuh dengan rindu”.

Dia masih senyum-senyum sendiri. Seperti tengah melihat sesosok malaikat yang terus mengikutinya. Kami tak peduli perihal malaikat. Kami lebih sibuk menikmati wajah mungilnya senyam-senyum. Terus saja ia senyam senyum tanpa beban. Pastilah ia tak memiliki beban di usianya yang masih tiga bulan itu. Beda halnya dengan kami yang memiliki ragam pesona beban dalam pikiran. Ada yang setengah sakit jiwa karena batal kawin sebab calon ibu pihak sebelah tak merestui hubungan, ada yang tertekan batin sebab hasrat ingin kawin tapi belum seorangpun menghampiri, ada lagi yang sudah siap-siap berkawin dengan kekasihnya tapi malah orang tua yang tarik ulur lampu hijau dan lampu merah, sampai beban yang tertanggung sebab harus siapkan gedung, katering, dan busana menjelang hari berkawin. Tapi paling tidak, urusan kawin-berkawin itu lega sejenak melihat gadis kecil ini senyam-senyum manja.

 

Sebenarnya, apa yang membuat orang betah berlama-lama dengan bayi kecil seumuran tiga bulan? Sekedar menikmati senyum sajakah? Barang kali, iya. Sebab memang belum bisa diajak berbincang perihal musik, fashion, percintaan, apalagi perihal politik. Tapi nyatanya banyak orang yang betah bercuap-cuap dengan bayi seumur panen brokoli ini. Lalu ada apa dengan bayi seusia itu? Tak perlulah repot-repot menjawab. Ini bukan tulisan tentang kajian Psikologi Anak. Tapi tentang masa lalu yang bereinkarnasi lewat sosok kecil mungil dan selalu membikin isi kepala penuh dengan rindu.

“Masa lalu lebih seperti ilalang yang tumbuh liar di ladang. Hari ini disiang habis, musim depan tumbuh lagi”.

Saya memang punya masa lalu dengan perwujudan manusia yang mungil-mungil. Bibirnya, hidungnya, dagunya, juga jari-jarinya. Semua serba mungil terkecuali keningnya. Namun terlihat wajar saja jika keningnya tak mungil, bisa jadi itu adalah representatif dari isi otaknya yang cerdas bukan main. Lalu kemana wujud mungil itu? Jangan tanya pada saya, karena sayapun tak tahu-menahu. Rasanya sudah bertahun-tahun diri tak bersua dan ucap tak bercerita. Selama itu pula tak ada saling sapa dan saling tanya. Ya, sampai akhirnya muncullah sosok gadis kecil ini. Yang setiap kali saya nikmati senyam-senyumnya ketika dalam gendongan, mengingatkan saya tentang sepenggal masa lalu yang sempat saya jalani tak lebih dari tiga purnama.


Saat ini mungkin masa lalu semakin berangkat menjauh. Sosok-sosok yang berwujud serba mungil di masa lalupun mungkin sudah berlari-lari anggun sembari mendekat pada bahu yang tegap memeluknya. Namun, masa lalu bukanlah asap yang keluar dari knalpot, yang terbang lalu hilang entah kemana. Masa lalu lebih seperti ilalang yang tumbuh liar di ladang. Hari ini disiang habis, musim depan tumbuh lagi. Datang angin menerpa, melambai-lambai lagi ilalang itu ke kanan dan ke kiri. Begitulah cara masa lalu menyusup ke dalam hidup. Kali ini berwujud bayi kecil yang masih dalam gendongan. Lain waktu, entahlah. Tapi paling tidak, pertemuan saya dengan gadis kecil ini sebuah isyarat bahwa saya pernah mempunyai masa lalu dengan yang berwujud mungil-mungil, yang tentunya bukan untuk dibakar dalam lupa, namun untuk meraih sebuah pemahaman bahwa ini adalah bagian dari banyak lembaran yang mengantarkan saya pada garis ikhtiar.

 

Terima kasih untuk betah dalam gendongan, Bayi Mungil.

Terima kasih pula telah bereinkarnasi, Masa Lalu.

Foto oleh: Tara

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s