Bosscha, “Perwujudan Mimpi Masa Kecil”

SAM_0487.JPG

Dulu. Dulu sekali. Saat saya masih duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar (SD) -sekitar tiga belas tahun lalu- saya senang mengenakan sepatu cats hitam dengan ujung depan berwarna putih sambil berjalan riang (sedikit lari-lari kecil dan sesekali melompat). Ya, seakan-akan saya sedang menjadi “Sherina” seperti di dalam film “Pertualangan Sherina”. Jangan tanya “kenapa tidak menjadi Sadam?”, karena sayapun tidak tahu alasannya. Dan pula saya bersusah payah mencari camilan si Sherina di film itu, cokelat warna-warni yang dimasukkan ke dalam wadah. Kesimpulannya, saat itu saya terobsesi dengan si Sherina kecil.

Sebuah kota yang menyimpan saksi sejarah di film itu. Saksi sejarah itu adalah “Observatorium Bosscha”.

Kekaguman saya tidak terbatas pada sosok Sherina saja, saya yang berasal dari pelosok tanah air -biar sedikit dramatis- akhirnya mengenal sebuah kota yang bernama “Bandung”. Sebuah kota yang menyimpan saksi sejarah di film itu. Saksi sejarah itu adalah “Observatorium Bosscha”. Tak dapat dielak lagi, saya jatuh cinta dengan tempat yang cantik ini. Bertahun-tahun saya menyimpan cinta pada Bandung dan Bosscha, sampai akhirnya, di tahun 2009 saya memutuskan untuk melanjutkan studi di salah satu universitas di Bandung. Saat itu, satu-satunya yang terbayang di kepala saya adalah Bosscha.

SAM_0338.JPG

Lima tahun lebih saya di Bandung, selama lima tahun itu pula saya sudah dua kali mencoba berkunjung ke Bosscha, dengan predikat “gagal”. Ternyata untuk berkunjung ke tempat itu harus mendaftarkan diri terlebih dahulu, belum lagi ada jadwal-jadwal tertentu. Akhirnya, di tahun 2016 ini, tepat di tanggal 21 Oktober lalu, saya bisa mengunjungi Observatorium Bosscha lewat rangkaian kegiatan “Bosscha Scavenger Hunt” yang diadakan oleh Pustakalana, sebuah komunitas perpustakaan anak dan ruang terbuka. Kegiatan ini diikuti oleh adik-adik kecil -lucu dan menggemaskan-, orang tua dan juga melibatkan beberapa kakak-kakak yang diberi kehormatan menjadi pendamping bagi adik-adik peserta yang disebut Junior Ranger ini.

SAM_0319.JPG

Kamipun mengunjungi ruangan demi ruangan yang menyajikan banyak pengetahuan. mulai dari ruangan workshop hingga ruangan-ruangan besar yang menyimpan teropong-teropong bintang. Bagi saya pribadi, ini bukan sekedar kunjungan. Lebih dari itu. Semua kenangan-kenangan masa kecil berkelebat di dalam kepala saya.

Saya akhirnya sadar, kenangan hanya berjarak sepersekian detik di kepala saya, dan kaki saya tak lagi memiliki jarak dengan mimpi di masa kecil.

Sampai akhirnya saya berada di depan bangunan putih dengan atap berbentuk kubah. Bangunan itulah yang menyimpan teropong besar bernama “Zeiss”. Saya ingat betul bentuk dan warnanya. Sayapun memasuki bangunan itu lewat pintu dimana Sherina pun juga pernah memasukinya. Saya senyum-senyum sendiri saat melihat teropong raksasa itu, sambil mengingat-ingat saat Sherina menyanyikan lagu “Bintang-bintang” di film itu, di mana Sadam sedang duduk lemah di anak tangga. Seorang pemandu kunjungan dengan segera menjelaskan ini-itu tentang sejarah dan cara kerja si Zeiss, tapi rasanya saya seperti tidak terlalu peduli. Saya sedang asik menyelami masa kecil saya. Suara Sherina kecil, pipi gempalnya, gigi kelincinya, rambut culun si Sadam, wajah lesu saat asmanya kambuh, sampai pada adegan manis saat Sherina mencium kening Sadam. Rasanya saya seperti kembali menjadi siswa kelas enam SD di tiga belas tahun lalu.

bosscha

Akhirnya saya sadar, kenangan hanya berjarak sepersekian detik di kepala saya, dan kaki saya tak lagi memiliki jarak dengan mimpi di masa kecil. Sepatu cats hitam dengan ujung putih, serta cokelat warna-warni begitu kental di dalam ingatan saya. Lagu-lagu di film itupun tak henti-hentinya mengalun di kepala saya.

Butuh waktu tiga belas tahun untuk saya menunggu mimpi di masa kecil itu terwujud.

Usai pemandu menjelaskan segala hal tentang Zeiss, sayapun keluar dari bangunan beratap kubah itu. Langit sudah mulai gelap sambil menurunkan tetes-tetes halus gerimis. Manis sekali malam itu, langit menemani saya menyelami masa kecil. Sebelum saya beranjak dari tempat itu, seorang mahasiswa yang sedang berjaga sempat berucap, “Nah, dari jendela ini nih Sherina mengintip penculik yang mau datang -sambil menunjuk-, dan di belakang sana itu Sherina turun dengan tali -sambil menunjuk-“. Sayapun kembali senyum-senyum sendiri.

SAM_0664.JPG

Begitulah, masa kecil akhirnya terwujud. Saya selalu percaya jika ada yang bilang “Tuhan akan menggenggam mimpi-mimpi kita”, karena mimpi saya di masa kecil telah Tuhan genggam saat itu, dan butuh waktu tiga belas tahun untuk saya menunggu mimpi di masa kecil itu terwujud. Terima kasih, Tuhan.

 

 

Catatan: 4 dari 5 foto dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi milik Bya (IG: @radenhas)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s