“4 November”, Jurang antara Kepemilikan dan Kekhawatiran

index2.jpg

Saya harus katakan bahwa saya sebenarnya tidak perlu ambil pusing seputar Pemilihan Gubernur DKI (Pilgub DKI). Harus saya katakan pula, sekalipun saya keluaran dari yayasan yang didirikan oleh Pak An*es bukan berarti saya pendukung beliau dan anti Bang Ah*k dalam perhelatan besar ini. Toh, saya juga salah satu penggemar Bang Ah*k di masa kepemimpinannya dalam memberikan perubahan besar di Kota Jakarta. Tapi, jangan pula dikira saya ini pendukung Mas Ag*s, walau tidak bisa dipungkiri kalau saya takjub dan tergila-gila dengan ketampanan pendidikan beliau, ditambah lagi sejak mengikuti Pemilu untuk yang pertama kali, saya adalah pendukung dan penggemar berat ayahnya Mas Ag*s. Bahkan sampai sekarang. Jadi, saya tegaskan lagi, saya bukanlah pendukung satupun dari ketiga kandidat tersebut. Dan dalam tulisan ini saya tidak bermaksud menjatuhkan salah satu atau menaikkan salah satu kandidat lainnya.

Namun kalau kita amati lebih jeli, ternyata gerakan unjuk rasa tersebut melibatkan banyak tokoh-tokoh dan organisasi Islam.

Unjuk rasa pada tanggal 4 November 2016 mendatang tentu ada kaitannya dengan Pilgub DKI, di mana salah satu calon (Bang Ah*k) mengeluarkan statement yang menyinggung Umat Islam (bagi yang tidak merasa tersinggung, ya sudah), dan berakibat pada kemarahan Umat Islam. Sayangnya hal ini dipandang sebagian pihak sebagai ajang untuk menjatuhkan Bang Ah*k yang sedang melangkah sebagai Kandidat DKI 1. Namun kalau kita amati lebih jeli, ternyata gerakan unjuk rasa tersebut melibatkan banyak pemuka agama, tokoh-tokoh, bahkan organisasi Islam.

Sampai pada satu titik saya memahami bahwa unjuk rasa tersebut adalah wujud kegerahan para pemuka agama atas pengabaian…

Saya pribadi mencoba memahami lebih lanjut dan mencari pandangan-pandangan dari pemuka agama seputar hal yang disebut-sebut “Penistaan Al Quran” ini. Sampai pada satu titik saya memahami bahwa unjuk rasa tersebut adalah wujud kegerahan Umat Islam atas pengabaian pihak berwajib bahkan pimpinan negara dalam menyikapi penistaan Al Quran ini. Jadi bukan ingin menjatuhkan Bang Ah*k dari persaingan Pilgub mendatang apalagi atas dasar anti-Cina. Toh Islam juga mengajarkan bagaimana berpolitik dan bersikap terhadap saudara sesama Muslim maupun non-Muslim.

index3.jpg

Di samping itu, saya juga membaca bagaimana pandangan publik dalam menyikapi unjuk rasa 4 November mendatang, dengan entengnya ada yang memandang unjuk rasa ini sebagai suatu sikap yang sebenarnya tidak perlu, dengan alasan “sudahlah, kan yang bersangkutan sudah minta maaf”, “kenapa harus unjuk rasa? memangnya tidak bisa dibicarakan baik-baik?”, “buat apa agama Allah dibela? Allah tidak perlu dibela”, “saya muslim, tapi saya rasa Islam mengajarkan kita untuk saling toleransi dan saling memaafkan”, serta pernyataan-pernyataan lainnya yang saya rasa menganggap enteng masalah ini. Dan sebagian besar yang mengungkapkan pernyataan serta alasan tersebut adalah umat Islam sendiri.

“Serendah itukah rasa kepemilikan saya terhadap Islam sebagai agama saya? sehingga masalah ini saya anggap  enteng dan remeh-temeh, padahal ayat suci yang langsung diturunkan oleh Tuhan telah dilecehkan”.

Awalnya sayapun termasuk orang yang berpikir seperti di atas, menganggap “hal ini sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan”, namun setelah banyak mendengar pandangan-pandangan pemuka agama, berdiskusi dengan orang yang saya anggap memiliki pengetahuan lebih seputar agama, sampai membaca beberapa sumber, pemikiran sayapun tersadar pada satu kenyataan “serendah itukah rasa kepemilikan saya terhadap Islam sebagai agama saya? sehingga masalah ini saya anggap  enteng dan remeh-temeh, padahal ayat suci yang langsung diturunkan oleh Tuhan telah dilecehkan”. Ya, sangat disayangkan jika permasalahan ini dianggap bukan masalah besar, padahal firman Tuhannya telah dilecehkan.

Publik terkesan agak sinis jika pergerakan datangnya dari organisasi yang membawa bendera agama…

Tidak dapat dipungkiri, ada kekhawatiran dari banyak pihak seputar aksi unjuk rasa yang akan diikuti sekitar dua ratus ribu orang ini, mulai dari kekhawatiran akan kemacetan, perusakan fasilitas umum, sampai kekisruhan yang menyebabkan korban jiwa. Ya, kita boleh-boleh saja khawatir, namun yang saya lihat, pemikiran publik tergiring ke arah “kekhawatiran” yang ditimbulkan akibat aksi unjuk rasa, lalu publik lupa sebab-musabab mengapa adanya aksi unjuk rasa tersebut, yang jelas-jelas sebabnya dipicu oleh perihal yang sangat sensitif, yaitu Agama. Melihat cara pandang publik, terkesan publik agak sinis jika pergerakan datangnya dari organisasi yang membawa bendera agama (tanpa melihat dengan jeli alasan dari pergerakannya), karena publik seperti sudah dapat memastikan tindakan mereka “tentu” akan menyebabkan kekisruhan. Padahal tidak semua organisasi agama sama dalam menyikapi sebuah permasalahan.

index22.jpg

Berkaitan dengan hal ini, pernyataan Aa Gym membuat saya anguk-angguk kepala, beliau bilang “Semoga Pak Jokowi memandang serius permasalahan ini. Kekurangseriusan akan berdampak luas dan panjang” (seperti gambar di atas). Seperti yang saya kemukakan di atas tadi, pengabaian dalam permasalahan penistaan Al Quran ini akhirnya berdampak pada aksi unjuk rasa besar-besaran tanggal 4 November mendatang, dan sangat disayangkan, mengapa permasalahan ini tidak ditindaklanjuti dan disikapi dengan serius sejak awal?

“Dengan adanya permasalahan ini, terjalin kesatuan dari umat dan ulama… yang kece juga, kalau kita jadi tertarik dan mempelajari tafsir Quran, tidak hanya Al Maidah ayat 51 tetapi juga 6 665 ayat lainnya”.

“Nasi sudah menjadi bubur”, barangkali ungkapan itu yang pas untuk permasalahan ini. Kitapun sama-sama yakin setiap hal yang terjadi pasti ada hikmahnya. Saya ingin mengutip pernyataan salah seorang teman yang saat ini tengah menempuh gelar doktoralnya di Amerika Serikat, ia mengatakan, “dengan adanya permasalahan ini, terjalin kesatuan dari umat dan ulama (untuk membela agama dan menuntut keadilan)… yang kece juga, kalau kita jadi tertarik dan mempelajari tafsir Quran, tidak hanya Al Maidah ayat 51 tetapi juga 6 665 ayat lainnya”. Maka, sudah selayaknya kita memandang permasalahan ini lebih berimbang, tidak dengan “kekhawatiran” yang berlebihan dan antipati terhadap orang-orang yang hendak turun dalam aksi unjuk rasa tersebut atas dasar agama dan keadilan (walaupun saya sendiri tidak dapat memastikan aksi unjuk rasa tersebut akan berlangsung baik-baik saja). Selain itu, sebagai manusia beragama, bukankah selayaknya kita memiliki rasa “kepemilikan” yang tinggi terhadap agama yang kita peluk, tanpa menodai hakikat dari manusia beragama itu sendiri.

 

Di akhir paragraf ini, -sebagai penulis amatir- saya mohon maaf jika tulisan ini menyinggung sebagian pihak (walaupun tidak ada maksud menyinggung), saya menyadari bahwa yang benar datangnya dari Yang Maha Tahu dan yang salah datangnya dari saya sendiri. Saya tutup tulisan ini dengan ungkapan dari Buya Hamka (yang sedikit menampar saya), “Jika agamamu dinistakan dan kamu diam, ganti pakaianmu dengan kain kafan”.

 

 

 

Catatan: gambar-gambar di dalam tulisan ini bukan milik saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s