Saya? dari Aceh.

 

DSC_0938.JPG

“Mas aslinya dari mana?”, tanya seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung Jurusan Astronomi angkatan 2013.

Saya balik bertanya, “kira-kira saya dari mana?”

Dengan wajah sedikit mengerut, ia mencoba menebak, “Jakarta ya, Mas?”.

Saya beri senyuman pada mahasiswa berkacamata itu sambil berkata, “Saya dari Aceh”.

“Wah, serius. Mas dari Aceh?”, mahasiswa bermata sipit itu mencoba meyakinkan jawaban yang diperolehnya.

Saya kembali tersenyum dan mengulang jawaban, “Ya, saya dari Aceh”.

Sayapun sadar, dengan warna kulit dan jenis rambut seperti ini, tak banyak yang akan percaya kalau saya berasal dari ujung Sumatera.

Pernah pula di suatu ketika saya tengah berbincang dengan salah seorang ibu saat dalam perjalanan. Setelah lama berbincang ibu tersebut bertanya, “Bandungna ti mana, Sep” yang artinya lebih kurang “Bandungnya di mana, Nak?”.

Saya kaget. Dalam hati bilang, ‘wow, ibu ini yakin sekali kalau saya dari Bandung’. Lalu dengan sopan dan senyum manis saya bilang, “saya bukan orang Bandung, Bu. Saya dari Aceh”. Dan ibu berkerudung hitam itupun kaget.

DSC_0771.JPG

 

Jakarta dan Bandung. Ya, dua kota itu memang sering kali dituduhkan pada saya tiap kali berkenalan dengan orang-orang baru. Sayapun sadar, dengan warna kulit dan jenis rambut seperti ini, tak banyak yang akan percaya kalau saya berasal dari ujung Sumatera. Lebih dari itu, sayapun memang tak begitu lancar berbicara dalam bahasa Aceh. Ibu dan Bapak saya memanglah orang Aceh, tapi kami selalu berbahasa Indonesia saat di rumah. Parahnya lagi, di lingkungan yang saya tinggali, hampir 85% adalah orang-orang Jawa yang telah beranak-pinak beberapa generasi. So, jangan heran kalau saya jauh lebih paham dan bisa berbahasa Jawa daripada bahasa asli suku saya sendiri.

 

Hidup saya yang berpindah-pindah juga sedikit tidaknya mempengaruhi bahasa yang bisa saya pahami atau paling tidak bisa akrab di telinga. Bilang saja, selama empat tahun saya tinggal di kota Banda Aceh (lagi-lagi saat di rumah paman ini, kami berbahasa Indonesia) yang umumnya berbahasa Aceh membuat saya sedikit tidaknya paham bahasa Aceh, karena sering mendengar percakapan teman-teman di sekolah, atau di lingkungan sekitar rumah.

DSC_0909.JPG

Setelah empat tahun di Banda Aceh, saya kembali melanjutkan pertualangan ke Bandung, Jawa Barat. Selama hampir lima tahun di Bandung, tak bisa dielak, bahasa Sunda sedikit tidaknya bisa akrab di telinga dan dapat sedikit saya pahami. Tidak sampai di situ. Lepas lima tahun di Bandung, saya melanjutkan perjalanan hidup (lebih tepatnya mendapat tugas mulia) yang mengharuskan saya parkir sejenak di Majene, Sulawesi Barat selama setahun. Di tempat itu, bahasa daerah yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Mandar. Lagi dan lagi, satu bahasa baru masuk dan akrab di telinga saya.Walaupun tak banyak yang saya pahami dalam bahasa Mandar, namun logat dari bahasa ini dapatlah saya tiru dengan baik. Itulah mengapa saya bisa berbicara asik dengan orang-orang yang berasal dari Timur Indonesia, khususnya daerah Sulawesi. Ya, walaupun saya tidak fasih berbicara satupun bahasa daerah, paling tidak saya bisa paham empat bahasa daerah: Aceh, Jawa, Sunda, dan juga Mandar.

Setiap ada yang bertanya, “Mas, asalnya dari mana?”, tak jarang saya menjawab santai, “dari Indonesia”

Namun begitu, tuduhan-tuduhan yang datang memang tak mengenal tempat. Kemanapun saya berpijak, kebanyakan orang mengira saya berasal dari dua kota tersebut, Jakarta dan Bandung. Sebenarnya tak ada masalah dengan tuduhan itu, toh saya memanglah dilahirkan dengan fisik yang seperti ini. Dan dengan beragamnya tuduhan orang-orang terhadap saya, setiap ada yang bertanya, “Mas, asalnya dari mana?”, tak jarang saya menjawab santai, “dari Indonesia”. Paling tidak untuk menunjukkan bahwa kemanapun saya menjunjung langit, tetaplah saya ini Anak Indonesia.

DSC_0706.JPG

Tapi, Tidak! Saya tidak pernah lupa dari mana saya berasal. Tiap kali perkenalan dengan siapapun, di manapun, kapanpun, dan sebercanda apapun, pada kalimat terakhir saya selalu mengatakan, “Saya dari Aceh”, sambil melengkapi peernyataan itu dengan senyum khas saya.

 

 

Catatan: Semua foto bertempat di Aceh dan milik saya pribadiAceh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s