Jatuh cinta, itu pilihan. Patah hati, itu tantangan!

DSC_0951.JPG

“Maaf, kita harus putus. Aku gak bisa terus bohongi kamu. Sebenarnya, aku sudah punya dua istri dan tiga anak”, kata seorang lelaki umur tua tampang muda kepada pacarnya (rangkap selingkuhan yang tadinya hendak dijadikan istri ketiga) *ini drama apaan sih. Hahaha. Bayangkan,  betapa hancurnya hati si wanita itu saat mendengar pengakuan dari si lelaki. Apa yang dirasakannya? Ya, patah hati.

Kalau ditanya mana yang lebih dulu, jatuh cinta atau patah hati, maka kita akan sama-sama bingung menjawabnya. Saat kita jatuh cinta, artinya kita siap untuk patah hati. Sebaliknya, kalau kita patah hati, harus siap untuk jatuh cinta lagi.  Karena “katanya” resiko dari jatuh cinta itu adalah harus siap patah hati, dan obat patah hati adalah dengan jatuh cinta lagi. Kisah jatuh cinta dan patah hati banyak macam dan jenisnya, mulai dari yang biasa standar ala anak sekolahan sampai yang complicated seperti drama buatan saya di awal paragraf tadi.

 

“Ketika kita memutuskan untuk jatuh cinta, itu mutlak sebuah pilihan”.

 

Nah, mari kita bahas tentang “jatuh cinta, itu pilihan” terlebih dahulu *slurup… ngopi dulu seteguk. Para hadirin dan hadirat *ala khutbah yang saya doakan kesehatan hati, jiwa dan raganya. Ketika kita memutuskan untuk jatuh cinta, itu mutlak sebuah pilihan. Saat ada seseorang yang memikat hati dan mengacak-acak jantung kita *berantakan deh tuh, saat itulah kita mulai mempertanyakan di dalam hati dan pikiran kita “apakah dia sosok yang kucari selama ini, yang dapat kuserahkan hidup dan matiku untuknya?” dan saat itu pula kita memilih untuk jatuh cinta pada sosok tersebut.

 

“Ketika seseorang merasa patah hati, ia merasa seperti manusia paling sengsaran hidupnya di alam semesta ini. Padahal ada miliaran penduduk Bumi dan alien-alien di alam lain sana yang juga mungkin sedang merasakan patah hati”.

 

Memang, ada kalanya perasaan tidak bisa dikendalikan dan kita cenderung tidak bisa menahan diri untuk tidak jatuh cinta pada seseorang ketika telah muncul ketertarikan, namun jika dipahami lebih mendalam, bukankah saat perasaan itu muncul kita sendiri yang memutuskan pilihan: mau atau tidak untuk jatuh cinta. Sekalipun perasaan itu begitu membuncah dan tidak dapat tertahankan, maka artinya kita telah memilih untuk “mau” jatuh cinta. Itulah kenapa, baik bagi orang yang hatinya-baik-baik saja, maupun yang hatinya luluh lantak, mereka mampu dan berhak menentukan pilihan “mau” atau “tidak” untuk jatuh cinta.

 

 “Bukankah saat perasaan itu muncul kita sendiri yang memutuskan pilihan: mau atau tidak untuk jatuh cinta?”

 

Selanjutnya, berkenaan dengan “patah hati, itu tantangan” *angkat jemuran dulu, mau hujan. Saya mau tanya, “pernahkah anda patah hati?” *gak, saya gak lagi nanya di depan cermin kok. Arrgghhh! Wahai penumpang Bumi, patah hati pasti pernah dirasakan oleh setiap orang. Ketika seseorang merasa patah hati, ia merasa seperti manusia paling sengsaran hidupnya di alam semesta ini. Padahal ada miliaran penduduk Bumi dan alien-alien di alam lain sana yang juga mungkin sedang merasakan patah hati,  bahkan mungkin lebih menyengsarakan. Jika kita kaitkan dengan jatuh cinta, seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, maka patah hati adalah konsekuensi dari jatuh cinta.

IMG_5563

Tak jarang orang yang patah hati menjadi kacau dan berantakan hidupnya, mulai dari jadwal makan, jadwal tidur, jadwal kerja sampai ke jadwal shalat (yang biasa pas injury time tiba-tiba jadi tepat waktu) *ini sih bagus ya. Hahaha. Lalu apakah dengan patah hati, lantas membuat kita menjadi daun kering di atas tanah, yang seiring waktu lebur menyatu dengan tanah? Janganlah begitu! Patah hati itu tantangan, wahai makhluk istimewa.

IMG_0022.JPG

Lalu, apa arti tantangan? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “tantangan merupakan hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah”. Nah, dengan begitu, jadikanlah patah hati sebagai tantangan dalam hidup. Bukan hal yang membuat kita lebur bersama kesakitan dan kekecewaan, namun menjadi kesempatan untuk kita melangkah ke zona lebih luas yang dapat meningkatkan kemampuan kita dalam mengatasi masalah hidup, khususnya masalah cinta, hati dan perasaan. Dengan begitu, kita akhirnya paham bahwa jatuh cinta dan patah hati adalah bagian dari kisah hidup *malah beberapa dijadikan kisah di novel dan FTV. Yeay!

 

“Patah hati… kesempatan untuk kita melangkah ke zona lebih luas yang dapat meningkatkan kemampuan kita dalam mengatasi masalah hidup, khususnya masalah cinta”.

 

Jadi, wahai insan muda dan insan tua *bentar, ada sms masuk… Dan ternyata iklan dari toko kue yang beli enam gratis enam, sebaiknya kita bisa menyikapi cinta yang datang dan pergi dengan sebijak mungkin. Jatuh cinta itu pilihan, maka jatuh cintalah pada orang yang tepat dan dengan cinta yang benar, tentunya bukan dengan ketergesa-gesaan yang mengikuti perasaan sesaat tanpa pertimbangan, karena yang tergesa-gesa itu bukanlah cinta, melainkan nafsu sesaat. Dan cara terbaik mengobati patah hati adalah dengan mau memaafkan keadaan masa silam dan bersedia untuk jatuh cinta lagi. Tapi ingat! Bukan jatuh cinta yang datang sebagai pelampiasan atas patah hati sebelumnya, melainkan jatuh cinta yang menjadi niatan untuk memperbaiki diri dengan cara mencintai yang benar. So, selamat memutuskan untuk jatuh cinta dan selamat menghadapi patah hati lagi!

 

“Jatuh cinta itu pilihan, maka jatuh cintalah pada orang yang tepat dan dengan cinta yang benar. Dan cara terbaik mengobati patah hati adalah dengan mau memaafkan keadaan masa silam dan bersedia untuk jatuh cinta lagi”.

IMG_9671.JPG

 

 

Note:

Semua gambar adalah ilustrasi.

Advertisements

2 thoughts on “Jatuh cinta, itu pilihan. Patah hati, itu tantangan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s