(Bukan) Jatuh Cinta “Ala-ala”

Saya tidak akan bertanya “Apa arti cinta?” pada anda, karena hampir semua orang (pura-pura) tidak dapat mendefinisikannya, padahal di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah sangat rinci dijelaskan *lempar KBBI. Jadi, bukankah kalau selama ini ada yang berkata “kamu tidak akan bisa mengartikan cinta sebelum kamu merasakannya” adalah kamuflase belaka *serius lohHahahaaa. 


Cinta dalam KBBI adalah suka sekali; sayang benar; kasih sekali; ingin sekali; berharap sekali; rindu. Lalu apa kita masih bingung menjelaskan arti dari cinta? Gampang saja, bukan? Tapi kali ini saya bukan mau membahas soal itu, saya mau bercuap tentang “jatuh cinta”. *sedhap


Pernahkah anda jatuh cinta? Bukan, Hey! Bukan jatuh cinta pada gebetan, kekasih ataupun pasangan hidup. Tapi lebih sederhana dari itu. Jatuh cinta yang biasa saja, yang bisa terjadi bahkan setiap menit *wow. Anda masih bingung? Baiklah, saya akan memberikan beberapa cerita tentang saya yang terlalu sering jatuh cinta. 

Jatuh cinta yang biasa saja, yang bisa terjadi bahkan setiap menit.


Ibu Warteg

Ya, saya pernah jatuh cinta dengan ibu warteg. Ketika si Ibu warteg menyiapkan menu yang saya pesan, yang biasanya adalah komposisi menu yang itu-itu saja (karena menu favorit saya) seperti telur dadar, terung balado, perkedel kentang, dan seorang akhwat yang siap dibungkus ke pelaminan *ups (abaikan menu yang terakhir). 
Keramahannya, senyumnya, dan pelayanannya yang sangat tulus membuat saya jatuh cinta. Ibu Warteg seperti tahu betul membut orang-orang jatuh cinta untuk mau lagi dan lagi kembali ke warteg tersebut, bukan karena masakannya yang lezat, tapi karena keramahan dan cara melayani yang hangat serta bersahaja *aseekkk


Supir Ojek

Ya, saya pernah jatuh cinta pada seorang tukang ojek yang bekerja di salah satu perusahaan ojek termashsyur di negeri ini. Udah pada tahu, toh? Itu, yang pake jaket hijau dan helm hijau. Nah, iya, yang itu. 

Back to the topic! Iya, jadi ceritanya saat itu saya sedang naik ojek dari Stasiun Bandung ke sebuah tempat makan Ramen. Sejak awal bertemu, bapak ini sudah terlihat beda dari supir gojek lainnya *cieee. Ya, bapak ini kelihatan pintar dan bijak dari cara bicaranya, bahasanya juga sopan dan tertata.
Seperti biasa, bapak ojek ini mengajak berbincang dengan ramah. Tanya-tanya saya darimana, yang padahal saya sendiri juga bingung saya ini dari mana dan punya siapa *loh. Singkat cerita, si bapak ulik-ulik asal kuliah saya. Setelah tahu saya dari Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis si bapak iseng nanya, “udah pernah ke Perancis atuh nyak?”

Saya jawab, “udah, Pak, tahun 2012 lalu”. 

“Wah, kegiatan apa?”

“Perkumpulan pemuda berbahasa Perancis, Pak”. 

“Di kota apa Perancisnya?”

“Paris, Pak”. 

“Wah banyak turis itu di sana. Orang Asia juga”. Lalu si bapak melanjutkan, “saya juga pernah dulu, tapi ke Marseille, gak lama. Trus ke London juga, kunjungannya gak sampai sebulan. Cuma seminggu”. 

“Oh gitu, Pak?” (Dalam hati bilang “hebat”)
Sejak itu, saya jatuh cinta dengan si bapak ini. Ternyata seorang yang kerja sampingannya supir ojek juga punya pengalaman yang luar biasa dan bisa mengisi perbincangan yang memberi insight. 




Bapak Gorengan

Menurut kamus hidup saya, gorengan (khususnya tahu isi) adalah kudapan terlezat di dunia. Itulah kenapa saya belajar bagaimana cara membuat gorengan, mulai dari bakwan, tahu isi, risoles, pisang goreng, sampai bayam goreng. Mungkin kalau mantan-mantan kita bisa diolah jadi gorengan, saya akan buat mereka jadi gorengan *bercanda hey, jangan ngamuk. Hahaa. 

Alkisah*jeng jeng, terdapat gorengan yang paling enak sedunia-akhirat *wait, saya khawatir di akhirat gak ada gorengan. Nah, si bapak gorengan biasanya mangkal di sekitaran Sersan Bajuri. Bagi yang tidak tahu boleh kontak saya, nanti saya share location. Menu gorengan yang tersedia antara lain: tahu isi (favorit saya), tempe goreng, pisang goreng, pisang aroma, cireng, kroket, dan sebuah gorengan yang sampai saat ini saya tidak tahu namanya, tapi saya sering beli. Iya, setiap beli saya tidak pernah kepikiran untuk tanya namanya. Lalu pertanyaannya, “apa yang buat saya jatuh cinta sama bapak gorengan ini?”, jawabannya sederhana saja, pastinya bukan karena gorengan yang terlezat sedunia-akhirat itu, tapi cara bapak ini berjualan. 
Beberapa hal kecil yang saya perhatikan adalah, bapak gorengan ini selalu mengenakan apron yang diikat mantap di leher dan pinggangnya. Menandakan bapak ini ingin mengolah gorengan itu dengan bersih. Lalu anda pasti menerka kalau minyak yang digunakan adalah minyak hitam legam sebagaimana tukang gorengan lainnya. Percayalah sobat-sobat sekalian, minyak di penggorengannya selalu bersih jernih. Selain itu, gorenganpun kita sendiri yang ambil dan pilih dari gerobaknya yang tertutup dan bersih. 
Tapi, yang membuat saya jatuh cinta adalah candaan ringan yang sering keluar dari mulut si bapak ini. Misalnya, saat ditanya, “Pak, ini gorengannya sembilan. Berapa, Pak?”

Bapaknya dengan (nada yang selalu) ceria bilang, “enam juta”.
Diawal saya membeli gorengan di sini, saya sempat bingung mengonversikan enam juta itu ke dalam pembayaran harga sebungkus gorengan, tapi akhirnya saya terbiasa bahwa “juta” digunakan bapak ini untuk menggantikan “ribu”. Hmmm cerdas juga bapak ini menghibur dirinya sendiri. Gorengannya dihargai dengan “juta” walaupun pembelinya selalu membayar dengan “ribu”. Sejak itulah saya jatuh cinta *lempar gorengan. 


Mbak Indojanuari

Ya, saya lahir di bulan januari, bukan Maret. Jadi sebut saja mbak Indojanuari. Lalu, kenapa saya jatuh cinta dengan mbak berseragam biru-merah-kuning itu? Sederhana saja, karena hampir semua mbak-mbak yang ada di belakang kasir itu selalu mengucapkan “terima kasih” setelah kita melakukan pembayaran.
Iya, saya tahu kalau mbak-mbak di Betamaret (maaf, saya lebih suka gelombang Beta daripada gelombang alfa) juga mengucapkan hal yang sama. Mbak-mbak di swalayan, minimarket dan superrmarket lainnya juga. Tapi saya sudah lebih dulu jatuh cinta sama mbak-mbak di Indojanuari. 
Salah satu yang paling buat saya jatuh cinta adalah mbak Indojanuari di kota Kabupaten Majene. Saya senang sekali kalau ada dia di belakang mesin kasir. Walaupun saya tahu kalau si mbak sangat khawatir saat saya masuk ke Indojanuari *nah loh. Hahahaa. 

Ya, pernah suatu ketika saya dan teman membayar belanjaan kami, lalu setelah selesai pembayaran dan mbak Indojanuari mengucapkan terima kasih, teman saya berceloteh, “mbak, saya berhak dapat minuman gratis, karena mbak gak nawarin kami pulsa”. Mbak Indojanuari ini lalu mematung dengan wajah panik dan bingung.

Lalu saya menimpali, “gak kok mbak, teman saya bercanda”. Lalu diapun memberikan senyuman khas karyawan Indojanuari. 
Belum lagi kalau saya iseng-iseng tanya hal aneh seputar kartu-kartu yang terpampang di rak-rak meja kasir, terlihat ia mencoba sebaik mungkin untuk menjelaskan dalam bahasa Indonesia dengan logat Mandar (suku di Majene) yang khas dan buat saya senyum-senyum sendiri. Ya, itulah yang membuat saya jatuh cinta dengan mbak Indojanuari, selalu mengucapkan terima kasih dan memberikan senyum, serta logat khasnya yang buat saya rindu setengah mati *ampun ya mbak.



Siswi Kelas 3 SD

Ini jatuh cinta paling dahsyat yang pernah saya alami. Dari sini saya belajar apa itu “ketulusan yang murni”. Hanya hal kecil yang dilakukannya. Saat saya masuk ke kelas (ketika dulu saya menjadi guru) untuk mengajar mata pelajaran olahraga, siswi ini dengan sigap menurunkan kursi terbalik di atas meja pasca bersih-bersih oleh piket kelas agar saya (gurunya) dapat duduk di kursi tersebut. Ya, di kursi guru itu. Dengan spontan pula mata saya berkaca-kaca, dan… mengalirlah bulir bening itu. Dan segera saya palingkan wajah membelakangi para siswa-siswi saya. *duh, jadi baper. Tisu dong selembar. 



Lain dari pada itu, banyak juga jatuh cinta sederhana yang saya alami, sama supir angkot, ibu pedagang sayur, abang SPBU, ibu tukang cendol, bapak martabak Aceh, kakak mie Aceh, sampai Kepala Dinas Kesehatan. Tapi, tidak perlulah saya ceritakan satu persatu, bukan karena tidak mengena di hati, tapi sudah terlampau pegal dua jempol saya mengetik sebanyak ini. 
Saya ulangi lagi pertanyaan saya, pernahkah anda jatuh cinta yang sesederhana ini? Yang dari jatuh cinta itu kita bisa mengambil pelajaran darinya. Mungkin bisa pula kita menjadikan itu pembelajaran bagi kita untuk mencintai seseorang yang kelak akan menjadi pasangan hidup kita. Amin. 

Note: semua foto adalah ilustrasi belaka agar mata pembaca sedikit segar. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s