Pendidikan, “Bukan Mie Instan” (Bag. 2)


Berkaitan dengan reshuffle, sehari setelah itu saya temukan di sebuah berita online tentang “Dua Arahan Presiden untuk Mendikbud Baru” yaitu pemerataan (melalui Kartu Indonesia Pintar) dan ketenagakerjaan (dengan mempertajam program pendidikan vokasi atau kejuruan). Membaca ini saya cukup kaget dan sambil bertanya-tanya “apakah reshuffle Mendikbud dengan alasan ini?”, (lagi dan lagi) dengan sedangkal-dangkalnya pemikiran saya dapat saya katakan bahwa pendidikan bukanlah seperti membuat mie instan. Dibuat dengan cepat hanya dengan air panas, ditunggu beberapa menit, ditambahkan bumbu pelengkap, lalu siap disantap dan mengenyangkan perut (sesaat). 

Bukankah perlu terlebih dahulu menciptakan suasana yang kondusif untuk semua pihak agar mau ikut terlibat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan. 

Dua arahan Bapak Presiden memang dianggap perlu untuk pendidikan di Indonesia. Sayapun sepakat jika pendidikan di Indonesia punya seabrek-abrek permasalahan, arahan ini salah satu solusinya. Melihat banyaknya permasalahan itu dibutuhkanlah proses yang cukup panjang untuk memperbaiki hal-hal mendasar di dunia pendidikan. Katakanlah jika dua arahan Presiden tersebut tujuannya untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar. Bukankah perlu terlebih dahulu menciptakan suasana yang kondusif untuk semua pihak agar mau ikut terlibat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan di dunia pendidikan yang sebenarnya tidak bisa diabaikan? Bukankah jika dunia pendidikan sudah “menyenangkan” bagi semua pihak (baik kebahagiaan siswa, kesejahteraan guru, sampai kepada kepuasan orang tua dan tokoh masyarakat) akan lebih mudah menggiring pendidikan ini yang ke arah pada apa yang dibutuhkan pada sebuah negara? 

Orang yang mempunyai cita-cita besar ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ itu pastilah dapat menebar benih-benih nilai positif dimanapun beliau berada.

Oleh karena itu, pendidikan bukanlah “proses instan” untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan sesuai kebutuhan pasar di tengah banyaknya permasalahan di wajah pendidikan negeri ini, butuh waktu yang panjang, bertahap dan tertata baik. Itulah mengapa (menurut saya) selama masa jabatan dua puluh bulan ini Pak Anies mencoba untuk menciptakan “dunia pendidikan yang menyenangkan” itu terlebih dahulu.

Di paragraf ini, maafkanlah saya yang telah menyampaikan hasil pemikiran saya yang mungkin jauh dari tajamnya pemikiran-pemikiran para ahli atau pengamat. Namun yang harus diingat adalah tidak penting siapa yang menjadi Menteri, kita sebagai manusia yang hidup di Indonesia sudah seyogianya terus bekerja, bekerja dan bekerja seperti apa yang dihimbau oleh Bapak Jokowi, Presiden kita. Bekerja untuk sama-sama memajukan Negeri tercinta ini, yang salah satunya melalui pendidikan. 


 Tidak dipungkiri ada kekecewaan saya terhadap reshuffle ini, tapi apapun keputusan Pak Jokowi tentu penuh pertimbangan yang jeli, oleh karena itu sudah sepatutnya kita mendukung tanpa harus banyak mengeluh dan menyalahkan. Begitupun Mendikbud yang baru, saya yakin beliau datang dengan niat bersih dan dengan tujuan yang mulia untuk pendidikan Indonesia, maka patut pula kita dukung kinerjanya untuk sama-sama memajukan pendidikan di negeri ini. Jangan dirisaukan nasib seorang Anies Baswedan, kita harus percaya bahwa orang yang mempunyai cita-cita besar “mencerdaskan kehidupan bangsa” itu pastilah dapat menebar benih-benih nilai positif dimanapun beliau berada. Tugas kita saat ini, melakukan yang terbaik bagi bangsa ini tanpa banyak mengeluh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s