Pendidikan, “Bukan Mie Instan” (Bag. 1)


Belakangan ini timeline di media sosial ramai membicarakan seputar Reshuffle Menteri. Salah satu yang paling meramaikan timeline saya adalah dicopotnya Bapak Anies Baswedan sebagai Menteri Pendidikan dan kebudayaan. Hal ini tentu bukan keputusan sembarang yang diambil oleh Presiden yang kita hormati, Bapak Joko Widodo atau yang lebih kita kenal Pak Jokowi. Namun saya akui, sebagai orang yang berada di “lingkaran simpatisan” Pak Anies lewat gerakan sosial pendidikan yang beliau bentuk, tidak dapat saya pungkiri bahwa saya merasa sedikit kecewa. Sebut saja tulisan ini mungkin akan cenderung subjektif.

Kalimat pertama yang diucapkan adalah ‘Selamat Datang Para Pemberani’.

Walaupun perkenalan antara saya dan beliau tidak sedekat orang-orang yang berada di kementrian atau orang-orang yang berada di gerakan sosial pendidikan tersebut, namun bukan berarti saya mengenal beliau hanya sebatas quotes yang tersebar di seantero media sosial. Beberapa kali Pak Anies berdiri di depan saya sambil menyampaikan tentang hal yang sama, “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”. Dan saya masih ingat pertama kali beliau berdiri di depan saya dan teman-teman, kalimat pertama yang diucapkan adalah “Selamat Datang Para Pemberani”. Saya garis bawahi kata “pemberani” di sini. Ya, beliau mengucapkan itu untuk para pemuda yang mau memberikan pengorbanan untuk bangsa ini dengan “hanya” menjadi guru di desa terpencil selama satu tahun. Begitulah besarnya apresiasi beliau terhadap orang-orang yang mau terlibat di dunia pendidikan.


Sebagai orang yang berada dalam “lingkaran simpatisan” tersebut, saya sadar betul bahwa Pak Anies memandang pendidikan di sebuah negara bukan hanya tanggung jawab Presiden, Kemendikbud, Dinas Pendidikan, atau guru-guru di sekolah. Untuk menciptakan pendidikan yang kuat haruslah ada sinergi dari semua kalangan. Termasuk di dalamnya orang tua, tokoh masyarakat bahkan tokoh agama. Itulah mengapa baru-baru ini kita mengalami euforia “mengantar anak sekolah di hari pertama sekolah”, dengan tujuan terciptanya ruang interaksi antara pelaku pendidikan dengan masyarakat luas (katakanlah dalam hal ini orang tua murid). Ya, pendidikan memang tanggung jawab semua kalangan.

Itulah mengapa beliau merasa perlu untuk terlebih dulu menciptakan suasana dunia pendidikan yang menyenangkan dan bersahabat.

Nah, sebagai Menteri apa yang dilakukan Pak Anies? Saya akui pandangan saya sangatlah dangkal, namun saya melihat selama masa jabatan dua puluh bulan tersebut beliau terlebih dulu mencoba mengurusi hal yang paling mendasar dari sebuah pendidikan. Sebagai contoh, penumbuhan budi pekerti di sekolah dengan beberapa cara seperti membaca buku non-pelajaran sebelum memulai pembelajaran di kelas, menjadikan Masa Orientasi Siswa (MOS) di sekolah lebih bernilai pendidikan ditambah lagi dengan penghapusan perpeloncoan, serta yang sejak awal digembor-gemborkan yaitu menciptakan sekolah sebagai taman yang menyenangkan untuk belajar dan bermain (seperti konsep Ki Hajar Dewantara). 


Beberapa gebrakan sederhana ini sebenarnya cukup beralasan, beliau terlihat sangat responsif terhadap beberapa kasus yang terjadi pada dunia pendidikan, mulai dari tawuran antar siswa, kecurangan saat Ujian Nasional, kekerasan di sekolah, dan beberapa permasalahan lainnya. Itulah mengapa beliau merasa perlu untuk terlebih dulu menciptakan suasana dunia pendidikan yang menyenangkan dan bersahabat, sehingga nantinya arah pada perubahan perilaku yang ditanamkan melalui budi pekerti luhur dapat melekat dengan baik pada peserta didik juga para pendidik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s