Hujan (Bagi Mereka)


Aku selalu menyukai langit dikala hujan. Tak peduli betapa lebatnya. Tak peduli dimana jatuhnya. Jika Tuhan menurunkan limpahan rezeki dari langit melalui hujan, maka hujanpun punya cerita yang disampaikan khusus untukku (juga untuk mereka). Seperti cerita-cerita di kala kecil. 

Hujan memang mempunyai cerita masing-masing bagi mereka.


Bagi anak-anak

Hujan adalah waktu dimana mereka bisa bebas keluar rumah dan bermain air (yang mungkin bercampur lumpur). Berkumpul bersama teman-teman dengan hanya menggunakan pakaian seadanya, lalu bertebaranlah mereka kesana kemari.

Anak laki-laki lebih banyak menghabiskan saat hujan dengan bermain bola. Semakin banyak air yg menggenang di lapangan, semakin senanglah mereka mengarahkan bola kesana. Entah untuk sekedar membuat badan berlumpur atau menirukan gerakan sliding yang ada di pertandingan bola sungguhan. Bagi anak-anak perempuan hujan dimanfaatkan untuk bermain kejar-kejaran atau main masak-masakan dari lumpur. Boneka kesayanganpun kadang dikorbankan untuk dijejali lumpur-lumpur dari tanah bercampur hujan. 

Bagi remaja

Hujan adalah waktu dimana kamar mengalunkan lagu-lagu sendu. Bagi yang tengah jatuh cinta lagunya pasti tentang ungkapan kasih dan pemujaan pada belahan jiwa. Bagi yang tengah patah hati —yang merasa hujan adalah sahabat karib— lagu yang mengalun pastilah yang mengumandangkan pengkhianatan, perselingkuhan, perpisahan, ataupun perbedaan. 


Pada saat hujan pula sering lahir karya-karya amatiran dari manusia-manusia ini. Mulai dari puisi, cerita, rajutan, sampai bahkan lagu. Hujan memang memberi suasana hati yang pas bagi siapa saja. Entah yang bahagia ataupun yang sedih. 

Bagi orang tua

Hujan adalah saat dimana merindukan orang-orang yang jauh di mata. Entah anak-anak yang ada di perantauan, atau kerabat-kerabat yang sudah lama tak berjumpa. 

Seorang ayah biasanya menghabiskan waktu di kala hujan dengan secangkir kopi dan koran di tangan sambil duduk santai di teras rumah. Kadang pula dilengkapi dengan kudapan-kudapan hangat. Dan ibu biasanya menemani ayah sambil menjahit kancing baju anak-anak yang lepas atau celana yang robek di  sana-sini. 

Ya, hujan memang mempunyai cerita masing-masing bagi mereka. Dan bagiku, hujan adalah saat dimana aku merindukan segelas teh hangat dan pisang goreng buatan ibu yang baru saja diangkat dari penggorangan, lalu kami (kakak-beradik dan bapak) berebut mendapatkan pisang mana yang paling banyak keraknya. Tak peduli betapa panasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s