Tanah Kelahiran (Asing)

Sore hari aku tiba di tanah yang indah ini. Tanah dimana asal muasal keturunanku dilahirkan. Darah yang mengalir di darah mereka adalah darah yang sama. Darah perpaduan antara keangkuhan dan kepedulian. Lama sudah aku tak mengenal tanah ini. Dimana nilai-nilai luhur masih dijaga. Kadang terlihat begitu tertinggal dan kuno. Cara berpikir. Cara pandang hidup dan cara penerimaan terhadap hal-hal baru.

Asing. Kata itu yang muncul dalam benakku. Ya, mengapa aku merasa asing di tanahku sendiri? Rasa takut terus bersarang di dalam dadaku. Tak nyaman dan tak tenang berada di sekitar orang-orang yang menatapku penuh curiga. Entahlah, entah budaya keagamaan yang kental atau dampak kenangan konflik berkepanjangan.

Namun satu hal yang menyenangkan, bertemu dengan pemuda-pemudi kebanggaan bangsa di sini mengajarkanku bahwa di tanah ini harapan masih selalu ada. Sampai kapanpun tanah ini akan selalu memiliki mimpi untuk sebuah kejayaan. Sepahit apapun masa kelam pernah menimpanya.

*****

Semakin hari semakin banyak cerita yang kudengar. Disampaikan lewat pandangan-pandangan yang cukup beralasan. Tiap jengkal tanah yang kuinjak membuatku merasa khawatir, takut dan cemas.


Hari ini kunikmati setiap detik perjalanan, perseteruan dengan nyamuk-nyamuk nakal, jalanan rusak berkubang di tengah hutan serta debu-debu yang beterbangan.

Manusia yang berada
di atas tanah ini memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi terhadap siapapun yang siap masuk melewati pintu rumahnya.

Banyak teman-teman baru kutemui di sini. Tiap dari mereka menyampaikan pandangannya terhadap tanah ini. Ada yang menyenangkan dan ada pula yang membuat kening berkerut. Saya menyadari, begitu kompleks seluruh lapisan kehidupan di sini. Perjalanan hari ini ditutup dengan sebuah kunjungan ke salah satu rumah rekan kami. Ya, tempat yang menurut pengakuan Tuan Rumah merupakan basis gerakan pemberontak di masa silam. Keluarga yang saya kunjungi banyak bertanya santai seputar asal muasal saya. Hal inilah yang saya khawatirkan sejak awal, tentang darimana saya berasal, bahasa daerah yang saya gunakan, hingga tektek bengek lain yang sulit untuk saya jawab.

Bagi orang yang telah lama mengalami krisis identitas seperi saya, pertanyaan ini sangat mengganggu kenyamanan saya, namun saya menyadari satu hal, bahwa darah yang mengalir dalam tubuh kita tidak dapat digantikan dengan darah manapun. Saya tetaplah orang yang berasal dari tanah yang sama dengan mereka.
Saat ini kesadaran saya semakin bertambah tentang pentingnya identitas diri, karena itulah modal yang bisa kita persembahkan pada orang-orang yang ingin mengetahui lebih tentang asal muasal kita. Dan perjalanan hari ini memberi pandangan baru pada saya, bahwa tanah ini tak sekejam itu pada saya. Dan manusia yang berada di atas tanah ini memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi terhadap siapapun yang siap masuk melewati pintu rumahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s